Cara-Cara Batil Menegakkan Daulah Islamiyah



Cara-Cara Batil Menegakkan Daulah Islamiyah
Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba’abduh
Syariah, Kajian Utama, 19 - Agustus - 2005, 21:34:49


Ketika kaum muslimin, terkhusus para aktivisnya, telah menjauhi dan meninggalkan metode dan cara yang ditempuh oleh para nabi dan generasi Salaful Ummah di dalam mengatasi problematika umat dalam upaya mewujudkan Daulah Islamiyyah, tak pelak lagi mereka akan mengikuti ra`yu dan hawa nafsu. Karena tidak ada lagi setelah Al-Haq yang datang dari Allah k dan Rasul-Nya n serta Salaful Ummah, kecuali kesesatan. Sebagaimana firman Allah:

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ

“Maka apakah setelah Al Haq itu kecuali kesesatan?” (Yunus: 32)
Dengan cara yang mereka tempuh ini, justru mengantarkan umat ini kepada kehancuran dan perpecahan, sebagaimana firman Allah k:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutlah dia, dan janganlah kalian mengikuti As-Subul (jalan-jalan yang lain), karena jalan-jalan itu menyebabkan kalian tercerai berai dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kalian bertaqwa.” (Al-An’am: 153)
Di antara cara-cara sesat yang mereka tempuh antara lain:
1. Penyelesaian problem umat melalui jalur politik dengan ikut terjun langsung atau tidak langsung dalam panggung politik dengan berbagai macam alasan untuk membenarkan tindakan mereka.
Di antara mereka ada yang beralasan bahwa tidak mungkin Daulah Islamiyyah akan terwujud kecuali dengan cara merebut kekuasaan melalui jalur politik, yaitu dengan memperbanyak perolehan suara dukungan dan kursi jabatan dalam pemerintahan. Sehingga dengan banyaknya dukungan dan kursi di pemerintahan, syariat Islam bisa diterapkan. Walaupun dalam pelaksanaannya, mereka rela untuk mengadopsi dan menerapkan sistem politik Barat (kufur) yang bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan Islam. Mereka sanggup untuk berdusta dengan menyebarkan isu-isu negatif terhadap lawan politiknya. Bila perlu, merekapun sanggup untuk mencampakkan prinsip-prisip Islam yang paling utama dalam rangka untuk memuluskan ambisi mereka, baik melalui acara ‘kontrak politik’ atau yang semisalnya.1 Bahkan tidak jarang merekapun sanggup untuk berdusta atas nama Ulama Ahlus Sunnah dengan mencuplik fatwa-fatwa para ulama tersebut dan mengaplikasikannya tidak pada tempatnya. Cara ini lebih banyak dipraktekkan oleh kelompok Al-Ikhwanul Muslimun.
Sebagian kelompok lagi beralasan bahwa melalui politik ini akan bisa direalisasikan amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa, yaitu dengan menekan dan memaksa mereka menerapkan hukum syariat Islam dan meninggalkan segala hukum selain hukum Islam.
Walaupun sepintas lalu mereka tampak ‘menghindarkan diri’ untuk terjun langsung ke panggung politik demokrasi seperti halnya kelompok pertama, namun ternyata mereka menerapkan cara-cara Khawarij di dalam melaksanakan aktivitas politiknya. Yaitu melalui berbagai macam orasi politik yang penuh dengan provokasi, atau dengan berbagai aksi demonstrasi dengan menggiring anak muda-mudi sebagaimana digiringnya gerombolan kambing oleh penggembalanya.
Kemudian mereka menamakan tindakan-tindakan tersebut sebagai tindakan kritik dan kontrol serta koreksi terhadap penguasa, atau terkadang mereka mengistilahkannya dengan amar ma’ruf nahi munkar. Yang ternyata tindakan mereka tersebut justru mendatangkan kehinaan bagi kaum muslimin serta ketidakstabilan bagi kehidupan umat Islam, baik sebagai pribadi muslim ataupun sebagai warga negara di banyak negeri. Dengan ini, semakin pupuslah harapan terwujudnya Daulah Islamiyyah. Cara ini lebih banyak dimainkan oleh kelompok Hizbut Tahrir.
Maka Ahlus Sunnah menyatakan kepada mereka, baik kelompok Al-Ikhwanul Muslimun ataupun Hizbut Tahrir serta semua pihak yang menempuh cara mereka, tunjukkan kepada umat ini satu saja Daulah Islamiyyah yang berhasil kalian wujudkan dengan cara yang kalian tempuh sepanjang sejarah kelompok kalian. Di Mesir kalian telah gagal total, bahkan harus ditebus dengan dieksekusinya tokoh-tokoh kalian di tiang gantungan atau ditembak mati, dan semakin suramnya nasib dakwah. Di Al-Jazair pun ternyata juga pupus bahkan berakhir dengan pertumpahan darah dan perpecahan.
Atau mungkin kalian akan menyebut Sudan, sebagai Daulah Islamiyyah yang berhasil kalian dirikan, di mana kalian berhasil dalam Pemilu di negeri tersebut. Namun apa yang terjadi setelah itu…? Wakil Presidennya adalah seorang Nashrani, lebih dari 10 orang menteri di kabinet adalah Nashrani. Atau mungkin kalian menganggap itu sebagai kesuksesan di panggung politik di negeri Sudan, ketika kalian berhasil ‘mengorbitkan’ salah satu pembesar kalian di negeri tersebut dan memegang salah satu tampuk kepemimpinan tertinggi di negeri itu, yaitu Hasan At-Turabi. Apakah orang seperti dia yang kalian banggakan, orang yang berakidah dan berpemikiran sesat?! Simak salah satu ucapan dia: “Aku ingin berkata bahwa dalam lingkup daulah yang satu dan perjanjian yang satu, boleh bagi seorang muslim – sebagaimana boleh pula bagi seorang Nashrani– untuk mengganti agamanya.”2
Kami pun mengatakan kepada kelompok Hizbut Tahrir dengan pernyataan yang sama. Bagaimana Allah akan memberikan keberhasilan kepada kalian sementara kalian menempuh cara-cara Khawarij yang telah dikecam keras oleh Rasulullah n dalam sekian banyak haditsnya?
Di mana prinsip dan dakwah kalian –wahai Hizbut Tahrir—dibanding manhaj yang diajarkan oleh Rasulullah n dalam menyampaikan nasehat kepada penguasa, sebagaimana hadits beliau, dari shahabat ‘Iyadh bin Ghunm: Rasulullah n bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانِ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang hendak menasehati seorang penguasa, maka jangan dilakukan secara terang-terangan (di tempat umum atau terbuka dan yang semisalnya, pent). Namun hendaknya dia sampaikan kepadanya secara pribadi, jika ia (penguasa itu) menerima nasehat tersebut maka itulah yang diharapkan, namun jika tidak mau menerimanya maka berarti ia telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Al-Baihaqi. Dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani di dalam Zhilalul Jannah hadits no. 1096)
2. Jenis cara batil yang kedua adalah melalui tindakan atau gerakan kudeta/revolusi terhadap penguasa yang sah, dengan alasan mereka telah kafir karena tidak menerapkan hukum/syariat Islam dalam praktek kenegaraannya. Kelompok pergerakan ini cenderung menamakan tindakan teror dan kudeta yang mereka lakukan dengan nama jihad, yang pada hakekatnya justru tindakan tersebut membuat kabur dan tercemarnya nama harum jihad itu sendiri. Mereka melakukan pengeboman di tempat-tempat umum sehingga tak pelak lagi warga sipil menjadi korban. Bahkan tak jarang di tengah-tengah mereka didapati sebagian umat Islam yang tidak bersalah dan tidak mengerti apa-apa. Cara-cara seperti ini lebih banyak diperankan oleh kelompok-kelompok radikal semacam Jamaah Islamiyyah, demikian juga Usamah bin Laden –salah satu tokoh Khawarij masa kini— dengan Al-Qaeda-nya beserta para pengikutnya dari kalangan pemuda yang tidak memiliki bekal ilmu syar’i dan cenderung melandasi sikapnya di atas emosi. Cara-cara yang mereka lakukan ini merupakan salah satu bentuk pengaruh pemikiran-pemikiran sesat dari tokoh-tokoh mereka, seperti:
a. Abul A’la Al-Maududi, di mana dia menyatakan: “…Mungkin telah jelas bagi anda semua dari tulisan-tulisan dan risalah-risalah kita bahwa tujuan kita yang paling tinggi yang kita perjuangkan adalah: MENGADAKAN GERAKAN PENG-GULINGAN KEPEMIMPINAN. Dan yang saya maksudkan dengan itu adalah untuk membersihkan dunia ini dari kekotoran para pemimpin yang fasiq dan jahat. Dan dengan itu kita bisa menegakkan imamah yang baik dan terbimbing. Itulah usaha dan perjuangan yang bisa menyampaikan ke sana. Itu adalah cara yang lebih berhasil untuk mencapai keridhaan Allah dan mengharapkan wajah-Nya yang mulia di dunia dan akhirat.” (Al-Ususul Akhlaqiyyah lil Harakah Al-Islamiyyah, hal. 16)
Al-Maududi juga berkata: “Kalau seseorang ingin membersihkan bumi ini dan menukar kejahatan dengan kebaikan… tidak cukup bagi mereka hanya dengan berdakwah mengajak manusia kepada kebaikan dan mengagungkan ketakwaan kepada Allah serta menyuruh mereka untuk berakhlak mulia. Tapi mereka harus mengumpulkan beberapa unsur (kekuatan) manusia yang shalih sebanyak mungkin, kemudian dibentuk (sebagai suatu kekuatan) untuk merebut kepemimpinan dunia dari orang-orang yang kini sedang memegangnya dan mengadakan revolusi.” (Al-Ususul Akhlaqiyah lil Harakah Al-Islamiyyah, hal. 17-18)
b. Sayyid Quthb. Pernyataan Sayyid Quthb dalam beberapa karyanya yang mengarahkan dan menggiring umat ini untuk menyikap lingkungan dan masyarakat serta pemerintahan muslim sebagai lingkungan, masyarakat, dan pemerintahan yang kafir dan jahiliyah. Pemikiran ini berujung kepada tindakan kudeta dan penggulingan kekuasaan sebagai bentuk metode penyelesaian problema umat demi terwujudnya Khilafah Islamiyyah.
Metode berpikir seperti tersebut di atas disuarakan pula oleh tokoh-tokoh mereka yang lainnya seperti Sa’id Hawwa, Abdullah ‘Azzam, Salman Al-‘Audah, DR. Safar Al-Hawali, dan lain-lain.3
Buku-buku dan karya-karya mereka telah tersebar luas di negeri ini, yang cukup punya andil besar dalam menggiring para pemuda khususnya untuk berpemikiran radikal serta memilih cara-cara kekerasan untuk mengatasi problematika umat ini dan menggapai angan yang mereka canangkan. Maka wajib bagi semua pihak dari kalangan muslimin untuk berhati-hati dan tidak mengkonsumsi buku fitnah karya tokoh-tokoh Khawarij. Demikian juga buku-buku kelompok Syi’ah Rafidhah yang juga syarat dengan berbagai provokasi kepada umat ini untuk melakukan berbagai aksi dan tindakan teror terhadap penguasa. Mudah-mudahan Allah k memberikan taufiq-Nya kepada pemerintah kita agar mereka bisa mencegah peredaran buku-buku sesat dan menyesatkan tersebut di tengah-tengah umat, demi terwujudnya stabilitas keamanan umat Islam di negeri ini.

Khilafah Islamiyyah
bukan Tujuan Utama Dakwah para Nabi
Dari penjelasan-penjelasan di atas jelas bagi kita, bahwa banyak dari kalangan aktivis pergerakan-pergerakan Islam yang menyatakan bahwa permasalahan Daulah Islamiyyah merupakan permasalahan yang penting, bahkan terpenting dalam masalah agama dan kehidupan.
Dari situ muncul beberapa pertanyaan besar yang harus diketahui jawabannya oleh setiap muslim, yaitu: Apakah penegakan Daulah Islamiyyah adalah fardhu ‘ain (kewajiban atas setiap pribadi muslim) yang harus dipusatkan atau dikosentrasikan pikiran, waktu, dan tenaga umat ini untuk mewujudkannya?
Kemudian: Benarkah bahwa tujuan utama dakwah para nabi adalah penegakan Daulah Islamiyyah?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, mari kita simak penjelasan para ulama besar Islam berikut ini.
Al-Imam Abul Hasan Al-Mawardi berkata di dalam kitabnya Al-Ahkam As-Sulthaniyah: “…Jika telah pasti tentang wajibnya (penegakan) Al-Imamah (kepeme-rintahan/kepe-mimpinan) maka tingkat kewajibannya adalah fardhu kifa-yah, seperti kewa-jiban jihad dan menuntut ilmu.” Sebelumnya beliau juga berkata: “Al-Imamah ditegakkan sebagai sarana untuk melanjutkan khilafatun nubuwwah dalam rangka menjaga agama dan pengaturan urusan dunia yang penegakannya adalah wajib secara ijma’, bagi pihak yang berwenang dalam urusan tersebut.” (Al-Ahkam As-Sulthaniyah, hal. 5-6)
Imamul Haramain menyatakan bahwa permasalahan Al-Imamah merupakan jenis permasalahan furu’. (Al-Ahkam As-Sulthaniyah, hal. 5-6)
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata: “Maka anda melihat pernyataan mereka (para ulama) tentang permasalahan Al-Imamah bahwasanya ia tergolong permasalahan furu’, tidak lebih sebatas wasilah (sarana) yang berfungsi sebagai pelindung terhadap agama dan politik (di) dunia, yang dalil tentang kewajibannya masih diperselisihkan apakah dalil ‘aqli ataukah dalil syar’i…. Bagaimanapun, jenis permasalahan yang seperti ini kondisinya, yang masih diperselisihkan tentang posisi dalil yang mewajibkannya, bagaimana mungkin bisa dikatakan bahwa masalah Al-Imamah ini merupakan puncak tujuan agama yang paling hakiki?”
Demikian jawaban dari pertanyaan pertama. Adapun jawaban untuk pertanyaan kedua, mari kita simak penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t:
“Sesungguhnya pihak-pihak yang berpendapat bahwa permasalahan Al-Imamah merupakan satu tuntutan yang paling penting dalam hukum Islam dan merupakan permasalahan umat yang paling utama (mulia) adalah suatu kedustaan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, baik dari kalangan Ahlus Sunnah maupun dari kalangan Syi’ah (itu sendiri). Bahkan pendapat tersebut terkategorikan sebagai suatu kekufuran, sebab masalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah perma-salahan yang jauh lebih penting daripada perma-salahan Al-Imamah. Hal ini merupakan permasalahan yang diketahui secara pasti dalam dienul Islam.” (Minhajus Sunnah An-Nabawiyah, 1/16)
Kemudian beliau melanjutkan:
“…Kalau (seandainya) demikian (yakni kalau seandainya Al-Imamah merupakan tujuan utama dakwah para nabi, pent), maka (mestinya) wajib atas Rasulullah n untuk menjelaskan (hal ini) kepada umatnya sepeninggal beliau, sebagaimana beliau telah menjelaskan kepada umat ini tentang permasalahan shalat, shaum (puasa), zakat, haji, dan telah menentukan perkara iman dan tauhid kepada Allah k serta iman pada hari akhir. Dan suatu hal yang diketahui bahwa penjelasan tentang Al-Imamah di dalam Al Qur`an dan As Sunnah tidak seperti penjelasan tentang perkara-perkara ushul (prinsip) tersebut… Dan juga tentunya di antara perkara yang diketahui bahwa suatu tuntutan terpenting dalam agama ini, maka penjelasannya di dalam Al Qur`an akan jauh lebih besar dibandingkan masalah-masalah lain. Demikian juga penjelasan Rasulullah n terntang permasalahan (Al-Imamah) tersebut akan lebih diutamakan dibandingkan permasalahan-permasalahan lainnya. Sementara Al Qur`an dipenuhi dengan penyebutan (dalil-dalil) tentang tauhid kepada Allah k, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta tanda-tanda kebesaran-Nya, tentang (iman) kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, para rasul-Nya, dan hari akhir. Dan tentang kisah-kisah (umat terdahulu), tentang perintah dan larangan, hukum-hukum had dan warisan. Sangat berbeda sekali dengan permasalahan Al-Imamah. Bagaimana mungkin Al Qur`an akan dipenuhi dengan selain permasalahan-permasalahan yang penting dan mulia?” (Minhajus Sunnah An-Nabawiyah, 1/16)
Setelah kita membaca penjelasan ilmiah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas, lalu coba kita bandingkan dengan ucapan Al-Maududi, yang menyatakan bahwa:
1. Permasalahan Al-Imamah adalah inti permasalahan dalam kehidupan kemanusiaan dan merupakan pokok dasar dan paling mendasar.
2. Puncak tujuan agama yang paling hakiki adalah penegakan struktur Al-Imamah (kepemerintahan) yang shalihah dan rasyidah.
3. (Permasalahan Al-Imamah) adalah tujuan utama tugas para nabi.
Menanggapi hal itu, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah berkata: “Sesungguhnya permasalahan yang terpenting adalah permasalahan yang dibawa oleh seluruh para nabi –alaihimush shalatu was salaam- yaitu permasalahan tauhid dan iman, sebagaimana telah Allah simpulkan dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ

“Dan sesungguhnya telah Kami utus pada tiap-tiap umat seorang rasul (dengan tugas menyeru) beribadahlah kalian kepada Allah (saja) dan jauhilah oleh kalian thagut.” (An-Nahl: 36)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Kami utus sebelummu seorang rasul-pun kecuali pasti kami wahyukan kepadanya: Sesungguhnya tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Aku, maka beribadahlah kalian semuanya (hanya) kepada-Ku.” (Al-Anbiya`: 25)

وَلَقَدْ أُوْحَي إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

“Sungguh telah kami wahyukan kepadamu dan kepada (para nabi) yang sebelummu (bahwa) jika engkau berbuat syirik niscaya akan batal seluruh amalanmu dan niscaya engkau akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)
Inilah permasalahan yang terpenting yang karenanya terjadi permusuhan antara para nabi dengan umat mereka, dan karenanya ditenggelamkan pihak-pihak yang telah ditenggelamkan… Dan sesungguhnya puncak tujuan agama yang paling hakiki dan tujuan penciptaan jin dan manusia, serta tujuan diutusnya para Rasul, dan diturunkannya kitab-kitab suci adalah peribadatan kepada Allah (tauhid), serta pemurnian agama hanya untuk-Nya… Sebagaimana firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُيْنِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

الر، كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيْمٍ خَبِيْرٍ. أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ اللهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ

“Aliif Laam Raa. (Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. Agar kalian tidak beribadah kecuali kepada Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripada-Nya.” (Hud: 1-2)
Demikian tulisan ini kami sajikan sebagai bentuk nasehat bagi seluruh kaum muslimin. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.
Wallahu a’lam bish-shawab.

1 Untuk lebih jelasnya tentang berbagai sepak terjang mereka yang menyimpang dalam politik, pembaca bisa membaca kitab Madarikun Nazhar fi As-Siyasah karya Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani; dan kitab Tanwiiruzh Zhulumat bi Kasyfi Mafasidi wa Syubuhati Al-Intikhabaat oleh Asy-Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdullah Al-Imam.
2 Ucapan ini dinyatakan di Universitas Khurthum, seperti dinukil oleh Ahmad bin Malik dalam Ash-Sharimul Maslul fi Raddi ‘ala At-Turabi Syaatimir Rasul, hal 12.
3 Tiga tokoh terakhir ini yang banyak berpengaruh dan sangat dikagumi oleh seorang teroris muda berasal dari Indonesia, bernama Imam Samudra.




Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini
dengan mencantumkan sumbernya yaitu : www.asysyariah.com

Izinkan Aku Menangis

eramuslim - Jam menunjukkan pukul 21.20 malam… Kecurian. Aku tertidur sekitar 3,5 jam setelah berbuka puasa petang tadi. Seingatku aku sedang kejar-kejaran dengan waktu di etape sulit ini. Al Qur’anku belum selesai. Tapi entah mengapa, mushaf itu tetap diam disamping bantal; dekat kepalaku? Aku menyerah lagi. Kelelahan fisik dan kepenatan pikiran. Aku hendak berapologi pada diriku sendiri. Kegundahan apakah ini? Kekhawatiran apakah ini? Kecemasan apa lagi?

Mengapa pelupuk mataku panas. Namun, aku malu untuk menumpahkan air mata. Ya, air mata bening itu hanya boleh kutunjukkan pada-Nya. Bukan untuk memperturutkan rasa dan emosi serta mengalahkan rasio yang wajar. Meski… jebol juga tanggul itu.
Aku membuka hadits ini lagi, ”Orang yang cerdas adalah orang yang merendahkan dirinya dan berbuat untuk masa setelah mati. Orang yang lemah adalah yang memperturutkan hawa nafsunya dan berharap (banyak) pada Allah”. (HR.Turmuzi, dari riwayat Syaddad bin Aus ra.)

Jika kebodohan (tidak cerdas) tidaklah berakibat kepada kemurkaan Allah? Dan ternyata pengharapan pada-Nya saja tak cukup. Sering menyerah pada diri sendiri di tengah komitmen hendak berbuat. Harapan tanpa kekuatan itu disabdakan Rasulullah Saw. sebagai kelemahan. Mengapa aku lemah?

Jika saja ini bukan di etape final. Aku boleh berharap banyak untuk menjadi sang pemenang. Jika saja aku boleh berandai, jarum jam diputar. Namun, agamaku melarang pengandaian. Benar. Konsentrasi di babak ini seringkali buyar.

Aku membuka genggaman tangan kiriku. Ya, tinggal itulah hitungan hari-hari pembekalan tahun ini. Aku tak pernah tahu, mampukah aku sampai di penghujungnya. Mampukah aku menjadi yang terbaik diantara sekian juta para pemburu satu cinta, sejuta pengampunan dan seribu keberkahan? Aku malu menanyakannya pada diriku sendiri.

Masih tersisa kedengkian. Masih ada pertanyaan sikap dan prasangka buruk. Masih juga bersemanyam ketersinggungan dan gerutu ketidakpuasan. Masih ada pandangan mata khianat. Masih ada ketajaman lidah yang melukai hati. Masih juga mengoleksi berita-berita tak bernilai. Masih saja melafazkan kata-kata tak bermakna. Lantas, apa makna tengadahan tangan di tengah malam yang diiringi isak pengharapan. Sekali lagi, pengharapan yang lemah yang kalah oleh nafsu.

Aku terduduk lemas. Alhamdulillah Allah memberi kekuatan untuk mengungkapkannya. Aku pandangi lama-lama refleksi kegundahan itu.

Aku hanya boleh bertanya, kemudian kujawab sendiri. Selain itu hanya kesunyian. Meski dunia sekelilingku ramai dengan hiruk pikuk malam. Kedai sebelah rumah masih ramai. Coffee shop masih dipenuhi orang yang asyik menonton el Ahli–mungkin–, klub kebanggaan mereka sedang berlaga. Aku dibangunkan teriakan itu. Mengapa tidak suara Syeikh Masyari Rasyid yang melantunkan surat al Qiyamah, misalnya. Atau suara siapa saja yang menembus gendang telinga ini. Namun, melantunkan suara pengharapan yang kuat yang bisa menembus langit-Nya.

Atau suara-suara dari rumah-Nya yang dipenuhi isakan harapan hamba-hamba-Nya yang berlomba memburu seribu keberkahan dan sejuta pengampunan. Atau senyuman malaikat yang menyaksikan bocah-bocah kecil yang menahan kantuk berdiri sambil memegangi mushaf kecil dipojok-pojok masjid.

Sebagaimana aku boleh berharap di penghujung hari pembekalan ini, aku menjadi sang jawara. Namun, aku malu untuk berharap demikian. Sebagaimana aku juga boleh berharap menutup hariku di dunia dengan syahadah di jalan-Nya. Toh, semua menjadi misteri yang tak terjawab.

Ya, Khalid bin Walid pun yang sangat pemberani akhirnya menutup harinya di atas pembaringan. Lantas, tidakkah malu aku membandingkan pengaharapanku dengan kelemahan diriku menghadapi diri sendiri.

Sebagaimana aku mengandaikan bidadari surga. Apakah ia takkan cemburu dan marah dengan pandangan khianatku pada hal-hal yang tak seharusnya kulihat.

Sebagaimana aku berharap istana megah setelah matiku. Sudah berapakah aku menabung untuk itu. Sementara hidupku dipenuhi ambisi dan obsesi yang penuh dengan tabungan materi dan memegahkan istana duniaku. Dan aku telah mencintai dunia itu.

Sebagaimana aku berharap menikmati seteguk susu dari aliran sungai di surga-Nya. Aku lalai mengumpulkan “dana” untuk membelinya. Juga madu dan jus mangga.

Sebagaimana aku tetap berharap ingin terus mencicipi delima merah dan jeruk sankis serta buah khukh di masa setelah kefanaan ini. Tapi aku terlalu terpana oleh keindahannya yang sementara. Entah berapa tahun, bulan, hari atau bahkan hitungan detik aku masih bisa melihatnya di toko buah-buahan di sebelah rumahku.

Aku memaknai keterlaluan yang fatal ini dengan sikap yang tidak seimbang. Khayalanku dipenuhi pengaharapan. Namun, hatiku disesaki kelemahan. Akibatnya seluruh organ tubuhku lemah. Mata, telinga, mulut, kaki, tangan… semua menolak untuk diajak menggapai cinta-Nya.

Etape final ini banyak tikungan tajam. Dan aku terjatuh. Putaran roda keinginan tersebut trrgelincir oleh kerikil kecil bernama kelalaian. Alhamdulillah, aku masih bisa bangkit meneruskan perjalanan. Meski aku tahu, kini aku jauh tertinggal. Aku belum bisa menjadi yang terbaik. Tapi aku masih bisa berharap untuk menjadi baik. Karena aku masih bersama orang-orang baik bahkan mereka ada di depanku; orang-orang terbaik itu.

Aku masih harus melewati tikungan tajam lainnya. Tergesa-gesa, kecerobohan, cinta dunia, rasionalisasi kesalahan, buruk sangka. Namun, aku masih punya bekal. Cinta, hati nurani dan bahan bakar ketelitian serta nasihat orang-orang shalih. Dan tikungan tajam yang paling membahayakan di akhir etape ini adalah: menduakan cinta-Nya. Ada cinta lain yang menyesak hendak menggeser kemuliaan itu.

Ada beberapa materi terakhir di ujian final ini: menanggalkan kesombongan dan ingin dipuji serta disanjung berlebihan. Menanggalkan kecintaan dunia yang berlebihan dengan qanaah dan tawadhu’.

Tiba-tiba aku ingin menangis. Namun, aku tak mampu. Ya Allah aku ingin mengeluarkan air mata ini untuk-Mu. Aku khawatir kesulitan ini tersendat karena kemurkaan-Mu.

Air bening itu tersendat. Jangan-jangan karena kesalahanku. Karena tumpukan-tumpukan egoisme. Karena tumpukan-tumpukan kotoran buruk sangka. Karena tumpukan-tumpukan gerutu. Karena tumpukan-tumpukan doa-doa yang kosong. Terkunci oleh hawa nafsu.

Jika demikian, jangan Kau murkai hamba ini ya Allah. Hamba masih terus berharap pembebasan dari murka-Mu di hari-hari pembebasan ini.“… dan sepertiga terakhirnya adalah pembebasan dari api neraka,” demikian Rasulullah Saw. menjelaskan karakteristik bulan pembekalan ini. Ya Allah, jadikanlah nama hamba ada dalam daftar pembebasan itu. Juga nama kedua orang tua hamba, keluarga hamba, para guru hamba, saudara-saudara hamba serta siapa saja yang mempunyai hak atas hamba. Amin.

Saiful Bahri

Tausiah Untuk Diri Ini dan Saudaraku

Sahabatku,......................

Ketika kita harus memilih diantara dua pilihan, ada yang harus ditinggalkan dan ada yang harus diperjuangkan. Ketika kita telah memilih jalan da’wah ini terbayang oleh kita kesusahan, kepayahan, ketidakberdayan, kesempitan, kegundahan, kecemasan, kesedihan, ketakutan, dan beribu macam rasa yang tidak dapat dilukiskan oleh angan. Setiap hari beban berat yang ada di pundak ini makin banyak, sementara onak dan duri disekitar tempat kaki kita melangkah tak pula sekamin berkurang, sedang jalan yang kita lalui masih terlalu jauh untuk melihat kesudahannya. Hanyalah orang-orang yang shabar, penuh harap dan yang
bertawakal kepada Robb merekalah yang akan sampai pada kesudahan yang baik. Dan hanyalah orang yang pandai memilih bekalnya yang akan mencapai kebahagiaan yang hakiki.


Saudaraku,......................


Setiap cobaan dan musibah yang menimpa pada jalan yang mula ini pada hakikatnya adalah kenikmatan yang tiada tandingannya. Kalbu yang telah dipenuhi oleh cahaya keimanan kepaa Allah SWT tidak akan terpikat oleh keindahan semu yang nampak pada panca indera kita. Bagaimana mungkin kalbu yang penuh dengan hidayah-Nya dapat tergelincir untuk menjauhi jalan yang sekiranya semua penguasa di dunia
ini mengetahui kenikmatannya tentu mereka akan mengemis untuk mendapatkannya. Kecintan kepada Allah mengakibatkan segala kenikmatan yang ada didunia ini adalah kecil bila dibandingkan dengan kenikmatan Iman.


Tiadalah keinginan kecuali untuk bertemu dan melihat wajah Robb nya. Kalbu yang seperti ini kan sanggup memberikan semua yang dimilikinya untuk ditukarkan dengan keredhoannya. Merekalah orang-orang yang akan mewarisi bumi ini. Jasad mereka hidup didunia namun jiwa mereka tinggi di angkasa. Tiada yang mereka takuti dan yang mereka khawatiri kecuali hanya Allah SWT. Bagi mereka, segala bentuk pujian, penghargaan, cacian, hinaan adalah suatu yang tiada artinya bila dibandingkan denagn keredhoan Allah SWT. Tolak ukur mereka cuma satu, apakah mereka bermasalah kepada Allah SWT atau tidak.


“Yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celan orang yang suka
mencela”. (Qs 5 : 54).


Sahabatku,...............................


Jika terlintas dalam benak kita untuk mundur atau beristirahat sebentar saja dari jalan da’wah ini, ketahuilah bahwa kita telah membuang waktu kita untuk
sesuatu yang tidak berguna sama sekali. Apakah sanggup kita berjalan dibumi ini sedang da’wah ini tidak berada di sisi kita ? Berapa banyak orang yang menukar kehidupan da’wah ini dengan harga yang sedikit, sedang kehidupan mereka tidak
menemukan kedamaian, kesejukan, keindahan, ketenangan dan kebahagiaaan.


Cukuplah bagi mereka kehidupan yang sempit dan kegelisahan yang tiada pernah henti. Ingatlah ! jalan ini sangat panjang, hanyalah orang-orang pilihan yang sanggup melewatinya. Dunia telah menantikan karya-karya agung pemuda robbani. Kerahkan seluruh potensi yang ada, jangan putus asa, sebab putus asa bukan bukan bagian dari akhlak kaum muslimin. Masih terbentang waktu yang teramat panjang
dengan PR yang belum terpecahkan dihadapan kita. “ dan bekerjalah kalian, Niscaya Allah , rasul dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu”. (Qs Attaubah:105).


Saudaraku….......................


Persiapkan diri kita karena seorang dai dituntut utuk menampilkan dirinya sebagai sosok pribadi yang tidak hanya mampu berbicara dan beretorika, menabur nasihat dan petuah, namun seorang dai harus mampu mengimplementasikan semua itu.
(Qs asshaff: 2-3 ).

Jejak Para Rasul di Medan Dakwah

Oleh : Imron Zabidi, MA, M.Phil

Perjalanan dakwah diawali sejak diutusnya para Rasul yang dimaksudkan untuk menjelaskan risalah dan tuntunan Allah kepada umat manusia bagi hidup dan kehidupan mreka di muka bumi dan untuk memelihara mereka agar fitrahnya tidak terkontaminasi, rusak, menyimpang dan terdistorsi sehingga mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akherat.

Sesungguhnya manusia itu mahluk fitrah, yaitu yang secara alami cenderung memihak kepada yang benar, baik dan suci. Karena itulah manusia akan merasa aman dan tentram dengan kebenaran, kebaikan dan kesucian, memihak kepada yang baik dan yang benar, yang dalam wujud dan level tertingginya adalah memihak dan bertauhid kepada Allah SWT, Sang Kebenaran Mutlak. Hal ini merupakan implementasi perjanjian primordial antara manusia dengan Allah SWT, Penciptanya, ketika Allah hendak menciptakan manusia, Allah berfirman :

'Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap mereka seraya berfirman, bukankah Aku ini Tuhan kamu sekalian ? Mereka menjawab : benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak akan mengatakan : sesungguhnya kami (bani Adam) lupa terhadap perjanjian itu' . (QS Al A'raf : 172).
Namun, sekalipun keaslian fitrah manusia tak lenyap, ia bisa tertutup, terkontaminasi dan terdistorsi oleh hal-hal negatif yang dibawa lingkungannya dan syaitan. Fitrah juga dipengaruhi oleh sebuah kenyataan bahwa manusia adalah mahluk berdimensi dua. Ia memiliki potensi superior yang positif dan potensi imperior yang negatif. Dua potensi tersebut senantiasa bersaing, dan seringkali kemenangan berada di pihak potensi negatif karena banyak dan kuatnya faktor pendukung bagi potensi negatif tersebut. Namun demikian, masih banyak orang yang tetap bertahan di jalan kebenaran fitrah dan mampu melawan godaan serta syahwat.
Hanya saja hal ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki jiwa kokoh atau orang yang memiliki suasana kondusif dan relevan yang bias membantunya untuk bisa menciptakan kemenangan.
Diantara faktor utamanya adalah lingkungan yang baik, kawan yang mukhlis serta para para pembimbing umat. Karena itulah Allah swt memberikan bimbingan kepada manusia dengan mengirimkan para Rasul dari masa ke masa untuk membawa mereka kepada kebenaran fitrah dan menjauhkan dari penyimpangan.
Dari Sejarah Ulil Azmi
Nabi Nuh AS yang merupakan salah seorang Rasul Ulil Azmi, dikisahkan oleh Allah SWT di dalam Alqur'an tentang bagaimana beliau melakukan dakwah terhadap kaumnya :
'(Nuh) berkata : wahai Rabb-ku sesungguhnya saya telah menyeru kaumku siang malam.… Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam (QS Nuh : 5, 8-9).
Dalam ayat tersebut kita perhatikan adanya metode yang bervariasi dalam berdakwah kepada Allah yang mencakup dakwah intensif dan berkelanjutan yang tak mengenal lelah dan istirahat dimana Nabi Nuh AS berdakwah kepada kaumnya siang dan malam. Penolakan dan kebersikukukan mereka untuk tetap berpegang pada kekufuran serta kesombongan mereka melawan kebanaran sama sekali tidak membuat Nabi Nuh AS mengundurkan dan mengendurkan dakwahnya dalam rangka menyelamatkan mereka. Bahkan sikap mereka tersebut merupakan pendorong bagi konversi metode sebagai upaya baru untuk menarik hati mereka dengan cara sesekali menyeru mereka secara diam-diam dan sekali waktu secara terang-terangan. Upaya tersebut sangat menguras tenaga dan pikirannya.
Para Rasul datang silih berganti, lalu datanglah giliran Nabi Ibrahim AS yang melihat kaumnya terbelah ke dalam beberapa kelompok, setiap kelompok memiliki tuhan tersendiri yang berbeda jenis antara satu dengan lainnya. Nabi Ibrahim AS menyiapkan diri untuk melakukan perubahan total terhadap keyakinan salah mereka dengan metode yang relevan dengan realita keyakinan tersebut. Salah satunya, beliau berdakwah kepada para penyembah ciptaan Allah di angkasa dengan cara seakan beliau memiliki keyakinan yang sama dengan mereka sebagai taktik untuk menarik simpati mereka.
Setelah mereka percaya penuh kepada Nabi Ibrahim, beliau membuktikan bahwa benda ruang angkasa tersebut tidak pantas untuk dijadikan Tuhan.
Nabi Ibrahim AS mengawali dakwahnya dengan menjelaskan bahwa bintang yang menjadi sesembahan kaumnya tidak berhak dan tidak pantas disembah karena ia bisa hilang dan berubah karena Tuhan yang hakiki tidak boleh tertimpa perubahan dan harus tetap dalam keadaan paling sempurna. Lalu beliau pindah ke bulan, tetapi akhirnya iapun sirna juga.
Beliau menunjukkan kesesatan mereka dan menjelaskan bahwa kebenaran bukan pada yang mereka sembah. Kemudian pandangan beliau tertuju ke matahari yang merupakan sesembahan terbesar mereka, tapi iapun tidak berbeda dengan sebelumnya yang tidak berhak ddiagungkan dan disembah. Setelah itu, barulah Ibrahim AS menyatakan kebersihan diri dari semua yang mereka sembah dan menjelaskan bahwa Rabb yang diyakininya adalah Dzat yang menciptakan bintang, bulan dan matahari serta seluruh jagar raya ini. Inilah Rabb yang pantas dan berhak disembah :
'Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan' (QS Al An'am : 79)
Disini perlu dikemukakan pendapat Dr. Abdul Wahhab An Najjar dalam bukunya Tarikh Al Anbiya, bahwa Nabi Ibrahim AS yang dijuluki sebagai Khalilullah (Kekasih Allah) tidak mungkin pernah mengalami kekufuran dalam hidupnya dengan menyatakan bahwa bintang, bulan dan matahari adalah Rabb-nya sebelum menemukan Rabb sebenarnya. Manakala kita memperhatikan sejarah hidup para Nabi lainpun akan kita dapati bahwa tak ada seorangpun diantara mereka yang pernah mengalami kekufuran.
Setelah beberapa masa, Allah mengutus Musa AS kepada Fir'aun dan kaumnya. Allah mengehndaki agar beliau terdidik di rumah Fir'aun dan tumbuh berkembang di tengah-tengah mereka sehingga beliau mengenal kondisi mereka dimana hal ini sangat membantu beliau dalam melaksanakan kewajiban dakwah kepada mereka. Dengan perintah Allah SWT, Musa AS pergi menuju Fir'aun dan kaumnya lalu terjadilah dialog antara Musa, seorang Rasul Allah, dengan Fir'aun, seorang dungu dimana kedungguannya sampai membuatnya mengaku sebagai Tuhan.
Tatkala Musa AS mampu membungkam argumentasinya, lalu sang thaghut tersebut menggunakan intimidasi dan ancaman memenjarakan beliau. Namun Musa AS tidak takut dengan ancaman tersebut. Ketika Fir'aun merasa bahwa ancaman penjara tidak menggoyahkan Musa AS, lalu ia mengancam untuk membunuhnya. Inilah upaya terakhir seorang thaghut terhadap musuhnya
Dalam kondisi demikian, Musa AS memohon perlindungan kepada Allah lalu Allah memerintahkannya untuk membuatkan jalan di laut bagi pengikutnya. Demikianlah Allah menyelamatkan para pendukung-Nya dan menghancurkan para musuh-Nya :

'Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. Dan Fir'aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk' (QS Thaha : 78-79).
Kemudian Allah mengutus Isa AS untuk meneruskan dakwah yang diperankan Musa AS untuk menyelematkan Bani Israel dari kesesatan dan mengembalikan mereka kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Tetapi kesesatan tampaknya sangat menguasai mereka. Dalam kondisi demikian, Isa AS tetap menyampaikan risalahnya dan menjelaskan bahwa dirinya menjadi Rasul atas pilihan
Allah dan memperoleh wahyu dari-Nya. Penjelasan tersebut bagi bani Israel hanya menambahkan pengingkaran. Isa AS merasa bahwa bangsanya melakukan konspirasi untuk membunuh dirinya lalu beliau menanyakan kepada pengikutnya, siapa yang siap mendukung dan membantunya. Upaya pembunuhan tersebut gagal karena Allah tidak akan menyerahkan Rasul-Nya kepada para musuh kecuali ada hikmah berupa pelajaran yang lebih besar dan manfaat yang lebih luas :

'Dan mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka… Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana' (QS An Nisa : 157-158).
Refleksi Dakwah
Dari sejarah dakwah sebagian para Rasul Ulil Azmi yang merupakan contoh signifikan bagi keikhlasan beramal, kejujuran berkata, kesabaran menanggung celaan dan hinaan, dan kesediaan berkorban dengan jiwa, harta dan anak, kiranya merefleksikan pelajaran dan bekal berharga bagi para aktifis yang bergerak dijalan dakwah.
Para Rasul yang dikisahkan diatas, semuanya selamat dari tindakan jahat para musuh Allah. Tetapi di tempat lain Alqur'an menjelaskan bahwa sebagian dari Rasul menjadi korban konspirasi pembunuhan mereka. Hal ini merupakan salah satu metode pendidikan yang ditempuh Allah yang mengandung hikmah besar, antara lain;
Pertama : Supaya orang mukmin yang mengikuti jejak para Rasul tersebut tidak selalu bergantung kepada kemenangan sesaat di dunia ini.
Kedua : Supaya orang mukmin bersabar tatkala menerima berbagai cobaan dalam melakukan amal dakwah di jalan Allah.
Ketiga : Supaya harapan mereka terhadap balasan Allah di akherat lebih besar dan lebih kuat dari segala kemenangan dalam kehidupan du muka bumi ini.
Manakala para penyeru di jalan Allah memahami dan bisa mengambil ibrah dari perjalanan dakwah para Rasul, maka mereka akan senantiasa memiliki komitmen dan keteguhan dalam menunaikan tugasnya. Lantaran mereka menapaki jalan panjang yang dimuliakan dan diridoi Allah sekalipun banyak tantangan dan godaan yang menghadanynya. Mereka yakin akan kemenangan dan balasan Allah baik di dunia ini atau nanti setelah bertemu dengan Al Khaliq, Sang pencipta.

Jadilah Mukmin Yang Kuat


ManajemenQolbu.Com : Islam menganjurkan kepada kaum muslimin untuk mempersiapkan diri mereka dan generasi penerusnya menjadi sosok yang kuat dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup. Jangan menjadi orang yang lemah, bergantung kepada orang lain hingga tidak berdaya menjalani kehidupan ini. Kuat di sini juga meliputi unsur mandiri dan di dalamnya juga termasuk kemantapan jasmani secara fisik maupun rohani yang meliputi jiwa dan akal fikiran.

Rasulullah saw. dalam sebuah haditsnya pernah menyebutkan anjuran untuk mengajari anak-anak muslim keterampilan dalam berenang, memanah, dan menunggang kuda. Anjuran ini memberikan gambaran bahwa kita diminta menyiapkan generasi penerus menjadi sosok generasi yang kuat, memiliki keterampilan, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai kesulitan yang dihadapi.

Tiga keterampilan dalam Hadits Rasulullah tersebut merupakan unsur yang sangat penting dan urgent pada masa itu. Kalau kita melihat perkembangan zaman yang semakin canggih, maka tiga keterampilan itu bisa diambil pesan Haditsnya dan diluaskan menjadi keterampilan menguasai alat-alat teknologi seperti menembak, navigasi dan penguasaan medan, serta keterampilan terbang dengan pesawat atau terjun payung.

Walaupun demikian, kemampuan dasar yang disebutkan itu tetap merupakan hal yang penting dan harus dikuasai, sebab berenang, memanah, dan berkuda merupakan tiga hal yang mendasar dalam pertahanan terakhir, ketika kecanggihan teknologi itu mengalami jalan buntu.

Kalau kita melihat perkembangan demi perkembangan yang terjadi di sekitar kita, maka hal ini mengharuskan diri untuk selalu cermat dan berupaya semaksimal mungkin menghadapi berbagai kesulitan yang ada di depan mata. Krisis yang menyelimuti diri, mulai dari aspek ekonomi, sosial, politik, pertahanan-keamanan, bahkan sampai moralitas bangsa ini baik secara lokal maupun global merupakan hal yang harus kita selesaikan dengan kemandirian kita.

Generasi penerus harus mampu menghadapi berbagai persoalan yang ada dengan cermat, jernih dan mampu menempatkan setiap persoalan yang muncul pada koridor yang sesuai dan tepat.

Dengan sifat kuat ini, umat Islam lebih berani melawan musuh, lebih peka dan cepat memenuhi panggilan jihad, lebih kuat tekadnya dalam memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, sabar dalam menghadapi berbagai macam rintangan kehidupan, konsisten dalam melaksanakan shalat, puasa, dzikir, dan amal ibadah lain, dan lebih semangat dalam melaksanakan kebaikan dan kebenaran serta menjaga kebaikan itu tetap terwujud.

Kekuatan ini akan membuat musuh Allah dan kebatilan menjadi gentar, hingga mereka tidak mampu lagi melakukan perlawanan dan aniaya hingga kebenaran dan keagungan Islam dan kalimat Allah terus bersinar. Semoga kita semua termasuk kalangan umat Islam yang diberikan kekuatan baik jasmani maupun rohani dalam memerangi berbagai kedzaliman dan keburukan yang selalu ditebarkan oleh musuh Allah SWT. Wallahu’alam bish-shawab (mei/mq) © 2003 www.manajemenqolbu.com***



Oleh : Meilanny BS


KEAJAIBAN DI TUBUH KITA


Mata Yang Setengah-Jadi Tak Bisa Melihat

Apa yang terbersit di benak anda manakala mendengar kata 'mata'? Sadarkah anda bahwa salah satu hal terpenting dalam kehidupan adalah kemampuan untuk melihat? Jika menyadarinya, sudahkan anda memikirkan tanda-tanda lain yang terkandung dalam mata anda?

Mata adalah sepotong bukti yang paling nyata bahwa makhluk-makhluk hidup diciptakan. Semua organ penglihatan, termasuk mata binatang dan mata manusia, merupakan contoh yang sangat menonjol perihal rancangan yang sempurna. Organ istimewa ini amat rumit sampai-sampai mengungguli peralatan tercanggih di dunia ini.

Supaya mata dapat melihat, semua bagiannya harus bekerja sama secara serasi. Sebagai misal, jika mata kehilangan kelopak, tetapi masih mempunyai semua bagian lain seperti kornea, selaput penghubung, selaput pelangi, biji mata, lensa mata, retina, selaput koroid, urat mata, dan kelenjar airmata, itu pun sudah amat rusak dan akan segera kehilangan fungsi penglihatannya. Begitu pula, jika produksi airmata berhenti, maka mata akan segera kering dan menjadi buta kendati semua organ lain masih ada.

'Rantai kebetulan' yang diajukan oleh para evolusionis kehilangan semua maknanya menghadapi susunan rumit ini. Mustahil menjelaskan keberadaan mata kecuali sebagai zat ciptaan istimewa. Mata itu memiliki sistem rumit dengan banyak bagian dan, sebagaimana dibahas di atas, semua bagian pembentuk ini pasti menjadi ada pada waktu yang sama. Mustahil mata yang setengah-jadi berfungsi pada 'setengah melihat'. Pada keadaan-keadaan semacam ini, peristiwa penglihatan tak bisa berlangsung sama sekali. Seorang ilmuwan evolusionis menerima kebenaran ini:

Ciri umum mata dan sayap adalah hanya berfungsi jika tersusun sepenuhnya. Dengan kata lain, mata yang setengah-jadi tidak bisa melihat; burung dengan sayap setengah-sayap tidak dapat terbang.13

Dalam hal ini, kita menghadapi lagi pertanyaan yang sangat penting: siapa yang menciptakan semua unsur mata sekaligus? Pemilik mata tentu saja bukan orang yang membuat putusan mengenai pembentukannya. Karena bagi yang tiada berpengetahuan tentang seperti apakah penglihatan itu tidak mungkin berhasrat untuk mempunyai organ penglihatan dan melekatkannya pada tubuhnya. Jadi, kita harus menerima keberadaan Pemilik Yang Maha Bijaksana yang menciptakan makhluk hidup dengan indera seperti penglihatan, pendengaran, dan sebagainya. Ada pernyataan lain bahwa sel-sel yang tak bernyawa bisa mencapai fungsi yang mensyaratkan nyawa seperti penglihatan dan pendengaran dengan kehendak dan upaya mereka sendiri. Sangatlah jelas bahwa ini mustahil. Dalam Al-Qur'an, dinyatakan bahwa penglihatan dilimpahkan kepada makhluk hidup oleh Allah:

Katakanlah: Dialah Yang telah menjadikan kamu dan membuatkan untuk kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani; sedikit sekali kamu

GUNAKAN OTAK KITA !

Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat”

ManajemenQolbu.Com : Tentu sahabat MQ sering sekali mendengar ungkapan itu. Bahkan bagi seorang muslim, menuntut ilmu wajib hukumnya, bahkan Allah telah menjanjikan peninggian derajat beberapa tingkat bagi orang-orang yang menuntut ilmu.

Belajar...merupakan salah satu sarana untuk menuntut ilmu. Namun paradigma yang berkembang saat ini adalah belajar merupakan sesuatu yang kita lakukan saat kita berada di bangku sekolah. Saat kita selesai dengan bangku sekolah itu, nyaris kata belajar terkadang menjadi asing dan bukan lagi menjadi kebiasaan bagi kita. Saat diri telah beranjak tua, menginginkan belajar kembali atau kembali ke bangku sekolah menjadi suatu hal yang mengerikan, karena di benak kita tergambar kepikunan, Alzheimer, sehingga tercetus ”terlambatkah hasrat saya untuk mempelajari hal yang baru kembali ?......

Dalam buku Accelerated Learning for the 21st century, Colin Rose, dalam pokok bahasan “Gunakan atau Hilang”, dipaparkan secara rinci, bahwa sebenarnya “otak tua” bisa jadi memiliki kemampuan serta kekuatan yang mengejutkan.

Sebuah studi yang dilakukan terhadap 1500 orang yang berusia antara 25 hingga 92, yang diuji dalam fungsi-fungsi seperti matematika dan membaca, menemukan bahwa 25 sampai 33% dari mereka yang berusia 80 mendapatkan skor yang tidak berbeda dari mereka yang berusia lebih muda. Beberapa partisipan yang tertua ini bahkan mendapatkan skor tertinggi mendekati kemampuan mental paling tinggi untuk semua usia. Ini diterangkan oleh pakar psikologi Douglas Powell dari Universitas Harvard.

“Anggapan standar sekarang ini, kita kehilangan banyak sekali neuron dalam otak dalam periode penuaan yang normal. Namun data yang kami dapatkan tidak sepakat dengan anggapan itu. Jumlah neuron besar memang menurun, sementara jumlah neuron kecil justru meningkat dengan angka yang kira-kira seimbang. Sehingga kami berkesimpulan bahwa neuron besar tidak mati akan tetapi menyusut menjadi kelompok neuron yang berukuran lebih kecil “ tutur seorang neurosains dan patolog Universitas California di San Diego, Robert D Terry,MD.

OTAK TUA

Otak tua bila tetap dirangsang, maka ia akan menciptakan hubungan dan samnbungan penting antar sel. Otak tidak menumbuhkan sel-sel baru, tetapi hubungan-hubungan yang terjalin antarsel mungkin lebih penting.

Otak tua berupaya memelihara dan menjaga kemampuan menonjolnya untuk meremajakan dirinya kembali. Secara harfiah ia berupaya untuk menyambung-nyambungkan diri kembali untuk mengimbangi dan mengganti kehilangan yang dialaminya. Jika satu neuron tidak dapat melakukannya , maka akan ada sel-sel otak didekatnya untuk mengambil alih pekerjaan sel yang hilang.

Kerja otak laiknya seperti otot. Lebih banyak dilatih, maka ia akan berkembang dengan baik. Latihan yang digunakan yakni dengan memberi banyak rangsangan. Latihan mental akan membangun serebral seperti halnya latihan otot, tulang dan organ-organ badan lainnya.

USIA TUA BUKAN MASALAH

Benar sahabat, ini dibuktikan dengan sebuah studi menarik yang dilakukan Ellen Langer dan Rebecca Levy di Harvard menemukan adanya bias budaya. Di Cina dimana tidak ada pandangan negatif yang menyamakan usia tua dengan kelemahan mental, para lansia jauh lebih baik dalam mengerjakan tes kognitif dibandingkan dengan para lansia Amerika. Selain itu kejadian Alzheimer terhitung rendah.

Satu studi lagi tentang biarawati di The School Sisters of Notre Dame, rata-rata berumur panjang (mencapai umur 85 tahun). Selain itu mereka juga tidak tampak menderita demensia.

Para biarawati yang mendapatkan pendidikan tinggi itu mengajar dan terus menerus menghadapkan diri dengan berbagai masalah ternyata berumur lebih panjang dibandingkan para biarawati yang berpendidikan rendah yang bertugas membersihkan kamar atau bekerja di dapur. Tentu ini terlepas dari kekuasanNya dalam menentukan umur.

Profesor Snowdon, dalam penelitian Penuaan Sander-Brown universitas itu menemukan bahwa para biarawati yang berpendidikan lebih baik, memiliki jauh lebih banyak sambungan sel saraf yang memungkinkan mereka mengatasi kelumpuhan otak.

Saya pun, sering menemukan dalam lingkup keseharian, dosen-dosen, dokter-dokter yang lansia masih dengan gagah membimbing para mahasiswa. Para ulama sepuh dengan santri-santrinya. Atau yang telah bergelar nenek , berupaya melanjutkan studinya ke jenjang lebih tinggi.

Mungkin sahabat-sahabat MQ pun sering menemukan para lansia-lansia yang berprestasi di lingkungan rumah? Beberapa bisa jadi menjadi penghapal Al Quran yang handal, atau bahkan masih berkecimpung di dunia pendidikan,dakwah, atau sosial.

Jadi, bila Sahabat MQ yang masih berhasrat untuk tetap melanjutkan proses “belajar” nya di usia yang makin senja ini. Atau orangtua, kakek, nenek sahabat yang masih bersemangat untuk mencoba mempelajari hal-hal baru, Mulailah..! Tidak ada kata terlambat ! Penelitian telah membuktikan hal tadi.

Carilah pengalaman yang menantang sebagai sarana mengembangkan kekuatan dan kemampuan otak !...

Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu (agama) maka akan Allah mudahkan baginya jalan menuju surga. Dan sesungguhnya para malaikat senantiasa meletakkan sayapnya bagi orang-orang yang menuntu ilmu (thalibul ilmi). Para penghuni langit dan bumi sampai ikan-ikan di dalam air pun akan memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang alim dibandingkan 'abid (ahli ibadah) bagaikan keutamaan bulan purnama atas semua bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris nabi. Dan para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham tapi hanyalah mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan itu berarti dia telah mendapatkan keuntungan besar." (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Selamat Belajar...! (© 2003. manajemenqolbu.com***)

DAKWAH KELUARGA


Ayat dan hadits yang berkenaan dengan tanggung jawab terhadap keluarga

Q.S. 4: 34, QS. 2:229, QS. 66:6, QS. 25:74


Hadits Nabi: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya….dst.

Urgensi berdakwah kepada keluarga, khususnya kepada suami/istri dan anak.

Keluarga adalah rakyat pertama yang dimiliki oleh seorang pamimpin

Keluarga adalah sel-sel utama dalam pembentukan masyarakat, kesalehan mereka akan sangat menentukan kesalehan masyarakat pada umumnya.

Keberhasilan da’wah keluarga akan sangat menunjang keberhasilan da’wah di masyarakat, dan kegagalan da’wah di keluarga akan menjadi hambatan bagi keberhasilan da’wah di masyarakat.

Ruang terkecil dalam penegakan syari’ah Allah, setelah seseorang mensalehkan dirinya sendiri.

Menyediakan waktu sehari dalam seminggu jika anda orang yang sangat sibuk

Buah yang dipetik dari da’wah keluarga

Dihormatinya fikrah kepala keluarga/seorang da’I

Terpeliharanya adab-adab Islam di keluarga

Bergabungnya keluarga dalam barisan da’wah

Kebahagiaan hidup di dunia dan akherat

Adanya keharmonisan keluarga

Kerugian yang diperoleh bagi mereka yang tidak berdakwah keluarga.

Gersangnya suasana di keluarga

Akan ada anggota keluarga yang berada di luar lingkaran da’wah, bahkan menjadi musuh da’wah.

Menjadi cacat yang akan mengganggu dakwahnya di masyarakat.

Murka Allah.

Wallahu a’lam