eramuslim - Jam menunjukkan pukul 21.20 malam… Kecurian. Aku tertidur sekitar 3,5 jam setelah berbuka puasa petang tadi. Seingatku aku sedang kejar-kejaran dengan waktu di etape sulit ini. Al Qur’anku belum selesai. Tapi entah mengapa, mushaf itu tetap diam disamping bantal; dekat kepalaku? Aku menyerah lagi. Kelelahan fisik dan kepenatan pikiran. Aku hendak berapologi pada diriku sendiri. Kegundahan apakah ini? Kekhawatiran apakah ini? Kecemasan apa lagi?
Mengapa pelupuk mataku panas. Namun, aku malu untuk menumpahkan air mata. Ya, air mata bening itu hanya boleh kutunjukkan pada-Nya. Bukan untuk memperturutkan rasa dan emosi serta mengalahkan rasio yang wajar. Meski… jebol juga tanggul itu.
Aku membuka hadits ini lagi, ”Orang yang cerdas adalah orang yang merendahkan dirinya dan berbuat untuk masa setelah mati. Orang yang lemah adalah yang memperturutkan hawa nafsunya dan berharap (banyak) pada Allah”. (HR.Turmuzi, dari riwayat Syaddad bin Aus ra.)
Jika kebodohan (tidak cerdas) tidaklah berakibat kepada kemurkaan Allah? Dan ternyata pengharapan pada-Nya saja tak cukup. Sering menyerah pada diri sendiri di tengah komitmen hendak berbuat. Harapan tanpa kekuatan itu disabdakan Rasulullah Saw. sebagai kelemahan. Mengapa aku lemah?
Jika saja ini bukan di etape final. Aku boleh berharap banyak untuk menjadi sang pemenang. Jika saja aku boleh berandai, jarum jam diputar. Namun, agamaku melarang pengandaian. Benar. Konsentrasi di babak ini seringkali buyar.
Aku membuka genggaman tangan kiriku. Ya, tinggal itulah hitungan hari-hari pembekalan tahun ini. Aku tak pernah tahu, mampukah aku sampai di penghujungnya. Mampukah aku menjadi yang terbaik diantara sekian juta para pemburu satu cinta, sejuta pengampunan dan seribu keberkahan? Aku malu menanyakannya pada diriku sendiri.
Masih tersisa kedengkian. Masih ada pertanyaan sikap dan prasangka buruk. Masih juga bersemanyam ketersinggungan dan gerutu ketidakpuasan. Masih ada pandangan mata khianat. Masih ada ketajaman lidah yang melukai hati. Masih juga mengoleksi berita-berita tak bernilai. Masih saja melafazkan kata-kata tak bermakna. Lantas, apa makna tengadahan tangan di tengah malam yang diiringi isak pengharapan. Sekali lagi, pengharapan yang lemah yang kalah oleh nafsu.
Aku terduduk lemas. Alhamdulillah Allah memberi kekuatan untuk mengungkapkannya. Aku pandangi lama-lama refleksi kegundahan itu.
Aku hanya boleh bertanya, kemudian kujawab sendiri. Selain itu hanya kesunyian. Meski dunia sekelilingku ramai dengan hiruk pikuk malam. Kedai sebelah rumah masih ramai. Coffee shop masih dipenuhi orang yang asyik menonton el Ahli–mungkin–, klub kebanggaan mereka sedang berlaga. Aku dibangunkan teriakan itu. Mengapa tidak suara Syeikh Masyari Rasyid yang melantunkan surat al Qiyamah, misalnya. Atau suara siapa saja yang menembus gendang telinga ini. Namun, melantunkan suara pengharapan yang kuat yang bisa menembus langit-Nya.
Atau suara-suara dari rumah-Nya yang dipenuhi isakan harapan hamba-hamba-Nya yang berlomba memburu seribu keberkahan dan sejuta pengampunan. Atau senyuman malaikat yang menyaksikan bocah-bocah kecil yang menahan kantuk berdiri sambil memegangi mushaf kecil dipojok-pojok masjid.
Sebagaimana aku boleh berharap di penghujung hari pembekalan ini, aku menjadi sang jawara. Namun, aku malu untuk berharap demikian. Sebagaimana aku juga boleh berharap menutup hariku di dunia dengan syahadah di jalan-Nya. Toh, semua menjadi misteri yang tak terjawab.
Ya, Khalid bin Walid pun yang sangat pemberani akhirnya menutup harinya di atas pembaringan. Lantas, tidakkah malu aku membandingkan pengaharapanku dengan kelemahan diriku menghadapi diri sendiri.
Sebagaimana aku mengandaikan bidadari surga. Apakah ia takkan cemburu dan marah dengan pandangan khianatku pada hal-hal yang tak seharusnya kulihat.
Sebagaimana aku berharap istana megah setelah matiku. Sudah berapakah aku menabung untuk itu. Sementara hidupku dipenuhi ambisi dan obsesi yang penuh dengan tabungan materi dan memegahkan istana duniaku. Dan aku telah mencintai dunia itu.
Sebagaimana aku berharap menikmati seteguk susu dari aliran sungai di surga-Nya. Aku lalai mengumpulkan “dana” untuk membelinya. Juga madu dan jus mangga.
Sebagaimana aku tetap berharap ingin terus mencicipi delima merah dan jeruk sankis serta buah khukh di masa setelah kefanaan ini. Tapi aku terlalu terpana oleh keindahannya yang sementara. Entah berapa tahun, bulan, hari atau bahkan hitungan detik aku masih bisa melihatnya di toko buah-buahan di sebelah rumahku.
Aku memaknai keterlaluan yang fatal ini dengan sikap yang tidak seimbang. Khayalanku dipenuhi pengaharapan. Namun, hatiku disesaki kelemahan. Akibatnya seluruh organ tubuhku lemah. Mata, telinga, mulut, kaki, tangan… semua menolak untuk diajak menggapai cinta-Nya.
Etape final ini banyak tikungan tajam. Dan aku terjatuh. Putaran roda keinginan tersebut trrgelincir oleh kerikil kecil bernama kelalaian. Alhamdulillah, aku masih bisa bangkit meneruskan perjalanan. Meski aku tahu, kini aku jauh tertinggal. Aku belum bisa menjadi yang terbaik. Tapi aku masih bisa berharap untuk menjadi baik. Karena aku masih bersama orang-orang baik bahkan mereka ada di depanku; orang-orang terbaik itu.
Aku masih harus melewati tikungan tajam lainnya. Tergesa-gesa, kecerobohan, cinta dunia, rasionalisasi kesalahan, buruk sangka. Namun, aku masih punya bekal. Cinta, hati nurani dan bahan bakar ketelitian serta nasihat orang-orang shalih. Dan tikungan tajam yang paling membahayakan di akhir etape ini adalah: menduakan cinta-Nya. Ada cinta lain yang menyesak hendak menggeser kemuliaan itu.
Ada beberapa materi terakhir di ujian final ini: menanggalkan kesombongan dan ingin dipuji serta disanjung berlebihan. Menanggalkan kecintaan dunia yang berlebihan dengan qanaah dan tawadhu’.
Tiba-tiba aku ingin menangis. Namun, aku tak mampu. Ya Allah aku ingin mengeluarkan air mata ini untuk-Mu. Aku khawatir kesulitan ini tersendat karena kemurkaan-Mu.
Air bening itu tersendat. Jangan-jangan karena kesalahanku. Karena tumpukan-tumpukan egoisme. Karena tumpukan-tumpukan kotoran buruk sangka. Karena tumpukan-tumpukan gerutu. Karena tumpukan-tumpukan doa-doa yang kosong. Terkunci oleh hawa nafsu.
Jika demikian, jangan Kau murkai hamba ini ya Allah. Hamba masih terus berharap pembebasan dari murka-Mu di hari-hari pembebasan ini.“… dan sepertiga terakhirnya adalah pembebasan dari api neraka,” demikian Rasulullah Saw. menjelaskan karakteristik bulan pembekalan ini. Ya Allah, jadikanlah nama hamba ada dalam daftar pembebasan itu. Juga nama kedua orang tua hamba, keluarga hamba, para guru hamba, saudara-saudara hamba serta siapa saja yang mempunyai hak atas hamba. Amin.
Saiful Bahri
Sahabatku,......................
Ketika kita harus memilih diantara dua pilihan, ada yang harus ditinggalkan dan ada yang harus diperjuangkan. Ketika kita telah memilih jalan da’wah ini terbayang oleh kita kesusahan, kepayahan, ketidakberdayan, kesempitan, kegundahan, kecemasan, kesedihan, ketakutan, dan beribu macam rasa yang tidak dapat dilukiskan oleh angan. Setiap hari beban berat yang ada di pundak ini makin banyak, sementara onak dan duri disekitar tempat kaki kita melangkah tak pula sekamin berkurang, sedang jalan yang kita lalui masih terlalu jauh untuk melihat kesudahannya. Hanyalah orang-orang yang shabar, penuh harap dan yang
bertawakal kepada Robb merekalah yang akan sampai pada kesudahan yang baik. Dan hanyalah orang yang pandai memilih bekalnya yang akan mencapai kebahagiaan yang hakiki.
Saudaraku,......................
Setiap cobaan dan musibah yang menimpa pada jalan yang mula ini pada hakikatnya adalah kenikmatan yang tiada tandingannya. Kalbu yang telah dipenuhi oleh cahaya keimanan kepaa Allah SWT tidak akan terpikat oleh keindahan semu yang nampak pada panca indera kita. Bagaimana mungkin kalbu yang penuh dengan hidayah-Nya dapat tergelincir untuk menjauhi jalan yang sekiranya semua penguasa di dunia
ini mengetahui kenikmatannya tentu mereka akan mengemis untuk mendapatkannya. Kecintan kepada Allah mengakibatkan segala kenikmatan yang ada didunia ini adalah kecil bila dibandingkan dengan kenikmatan Iman.
Tiadalah keinginan kecuali untuk bertemu dan melihat wajah Robb nya. Kalbu yang seperti ini kan sanggup memberikan semua yang dimilikinya untuk ditukarkan dengan keredhoannya. Merekalah orang-orang yang akan mewarisi bumi ini. Jasad mereka hidup didunia namun jiwa mereka tinggi di angkasa. Tiada yang mereka takuti dan yang mereka khawatiri kecuali hanya Allah SWT. Bagi mereka, segala bentuk pujian, penghargaan, cacian, hinaan adalah suatu yang tiada artinya bila dibandingkan denagn keredhoan Allah SWT. Tolak ukur mereka cuma satu, apakah mereka bermasalah kepada Allah SWT atau tidak.
“Yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celan orang yang suka
mencela”. (Qs 5 : 54).
Sahabatku,...............................
Jika terlintas dalam benak kita untuk mundur atau beristirahat sebentar saja dari jalan da’wah ini, ketahuilah bahwa kita telah membuang waktu kita untuk
sesuatu yang tidak berguna sama sekali. Apakah sanggup kita berjalan dibumi ini sedang da’wah ini tidak berada di sisi kita ? Berapa banyak orang yang menukar kehidupan da’wah ini dengan harga yang sedikit, sedang kehidupan mereka tidak
menemukan kedamaian, kesejukan, keindahan, ketenangan dan kebahagiaaan.
Cukuplah bagi mereka kehidupan yang sempit dan kegelisahan yang tiada pernah henti. Ingatlah ! jalan ini sangat panjang, hanyalah orang-orang pilihan yang sanggup melewatinya. Dunia telah menantikan karya-karya agung pemuda robbani. Kerahkan seluruh potensi yang ada, jangan putus asa, sebab putus asa bukan bukan bagian dari akhlak kaum muslimin. Masih terbentang waktu yang teramat panjang
dengan PR yang belum terpecahkan dihadapan kita. “ dan bekerjalah kalian, Niscaya Allah , rasul dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu”. (Qs Attaubah:105).
Saudaraku….......................
Persiapkan diri kita karena seorang dai dituntut utuk menampilkan dirinya sebagai sosok pribadi yang tidak hanya mampu berbicara dan beretorika, menabur nasihat dan petuah, namun seorang dai harus mampu mengimplementasikan semua itu.
(Qs asshaff: 2-3 ).
Ketika kita harus memilih diantara dua pilihan, ada yang harus ditinggalkan dan ada yang harus diperjuangkan. Ketika kita telah memilih jalan da’wah ini terbayang oleh kita kesusahan, kepayahan, ketidakberdayan, kesempitan, kegundahan, kecemasan, kesedihan, ketakutan, dan beribu macam rasa yang tidak dapat dilukiskan oleh angan. Setiap hari beban berat yang ada di pundak ini makin banyak, sementara onak dan duri disekitar tempat kaki kita melangkah tak pula sekamin berkurang, sedang jalan yang kita lalui masih terlalu jauh untuk melihat kesudahannya. Hanyalah orang-orang yang shabar, penuh harap dan yang
bertawakal kepada Robb merekalah yang akan sampai pada kesudahan yang baik. Dan hanyalah orang yang pandai memilih bekalnya yang akan mencapai kebahagiaan yang hakiki.
Saudaraku,......................
Setiap cobaan dan musibah yang menimpa pada jalan yang mula ini pada hakikatnya adalah kenikmatan yang tiada tandingannya. Kalbu yang telah dipenuhi oleh cahaya keimanan kepaa Allah SWT tidak akan terpikat oleh keindahan semu yang nampak pada panca indera kita. Bagaimana mungkin kalbu yang penuh dengan hidayah-Nya dapat tergelincir untuk menjauhi jalan yang sekiranya semua penguasa di dunia
ini mengetahui kenikmatannya tentu mereka akan mengemis untuk mendapatkannya. Kecintan kepada Allah mengakibatkan segala kenikmatan yang ada didunia ini adalah kecil bila dibandingkan dengan kenikmatan Iman.
Tiadalah keinginan kecuali untuk bertemu dan melihat wajah Robb nya. Kalbu yang seperti ini kan sanggup memberikan semua yang dimilikinya untuk ditukarkan dengan keredhoannya. Merekalah orang-orang yang akan mewarisi bumi ini. Jasad mereka hidup didunia namun jiwa mereka tinggi di angkasa. Tiada yang mereka takuti dan yang mereka khawatiri kecuali hanya Allah SWT. Bagi mereka, segala bentuk pujian, penghargaan, cacian, hinaan adalah suatu yang tiada artinya bila dibandingkan denagn keredhoan Allah SWT. Tolak ukur mereka cuma satu, apakah mereka bermasalah kepada Allah SWT atau tidak.
“Yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celan orang yang suka
mencela”. (Qs 5 : 54).
Sahabatku,...............................
Jika terlintas dalam benak kita untuk mundur atau beristirahat sebentar saja dari jalan da’wah ini, ketahuilah bahwa kita telah membuang waktu kita untuk
sesuatu yang tidak berguna sama sekali. Apakah sanggup kita berjalan dibumi ini sedang da’wah ini tidak berada di sisi kita ? Berapa banyak orang yang menukar kehidupan da’wah ini dengan harga yang sedikit, sedang kehidupan mereka tidak
menemukan kedamaian, kesejukan, keindahan, ketenangan dan kebahagiaaan.
Cukuplah bagi mereka kehidupan yang sempit dan kegelisahan yang tiada pernah henti. Ingatlah ! jalan ini sangat panjang, hanyalah orang-orang pilihan yang sanggup melewatinya. Dunia telah menantikan karya-karya agung pemuda robbani. Kerahkan seluruh potensi yang ada, jangan putus asa, sebab putus asa bukan bukan bagian dari akhlak kaum muslimin. Masih terbentang waktu yang teramat panjang
dengan PR yang belum terpecahkan dihadapan kita. “ dan bekerjalah kalian, Niscaya Allah , rasul dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu”. (Qs Attaubah:105).
Saudaraku….......................
Persiapkan diri kita karena seorang dai dituntut utuk menampilkan dirinya sebagai sosok pribadi yang tidak hanya mampu berbicara dan beretorika, menabur nasihat dan petuah, namun seorang dai harus mampu mengimplementasikan semua itu.
(Qs asshaff: 2-3 ).
Oleh : Imron Zabidi, MA, M.Phil
Perjalanan dakwah diawali sejak diutusnya para Rasul yang dimaksudkan untuk menjelaskan risalah dan tuntunan Allah kepada umat manusia bagi hidup dan kehidupan mreka di muka bumi dan untuk memelihara mereka agar fitrahnya tidak terkontaminasi, rusak, menyimpang dan terdistorsi sehingga mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akherat.
Sesungguhnya manusia itu mahluk fitrah, yaitu yang secara alami cenderung memihak kepada yang benar, baik dan suci. Karena itulah manusia akan merasa aman dan tentram dengan kebenaran, kebaikan dan kesucian, memihak kepada yang baik dan yang benar, yang dalam wujud dan level tertingginya adalah memihak dan bertauhid kepada Allah SWT, Sang Kebenaran Mutlak. Hal ini merupakan implementasi perjanjian primordial antara manusia dengan Allah SWT, Penciptanya, ketika Allah hendak menciptakan manusia, Allah berfirman :
'Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap mereka seraya berfirman, bukankah Aku ini Tuhan kamu sekalian ? Mereka menjawab : benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak akan mengatakan : sesungguhnya kami (bani Adam) lupa terhadap perjanjian itu' . (QS Al A'raf : 172).
Namun, sekalipun keaslian fitrah manusia tak lenyap, ia bisa tertutup, terkontaminasi dan terdistorsi oleh hal-hal negatif yang dibawa lingkungannya dan syaitan. Fitrah juga dipengaruhi oleh sebuah kenyataan bahwa manusia adalah mahluk berdimensi dua. Ia memiliki potensi superior yang positif dan potensi imperior yang negatif. Dua potensi tersebut senantiasa bersaing, dan seringkali kemenangan berada di pihak potensi negatif karena banyak dan kuatnya faktor pendukung bagi potensi negatif tersebut. Namun demikian, masih banyak orang yang tetap bertahan di jalan kebenaran fitrah dan mampu melawan godaan serta syahwat.
Hanya saja hal ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki jiwa kokoh atau orang yang memiliki suasana kondusif dan relevan yang bias membantunya untuk bisa menciptakan kemenangan.
Diantara faktor utamanya adalah lingkungan yang baik, kawan yang mukhlis serta para para pembimbing umat. Karena itulah Allah swt memberikan bimbingan kepada manusia dengan mengirimkan para Rasul dari masa ke masa untuk membawa mereka kepada kebenaran fitrah dan menjauhkan dari penyimpangan.
Dari Sejarah Ulil Azmi
Nabi Nuh AS yang merupakan salah seorang Rasul Ulil Azmi, dikisahkan oleh Allah SWT di dalam Alqur'an tentang bagaimana beliau melakukan dakwah terhadap kaumnya :
'(Nuh) berkata : wahai Rabb-ku sesungguhnya saya telah menyeru kaumku siang malam.… Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam (QS Nuh : 5, 8-9).
Dalam ayat tersebut kita perhatikan adanya metode yang bervariasi dalam berdakwah kepada Allah yang mencakup dakwah intensif dan berkelanjutan yang tak mengenal lelah dan istirahat dimana Nabi Nuh AS berdakwah kepada kaumnya siang dan malam. Penolakan dan kebersikukukan mereka untuk tetap berpegang pada kekufuran serta kesombongan mereka melawan kebanaran sama sekali tidak membuat Nabi Nuh AS mengundurkan dan mengendurkan dakwahnya dalam rangka menyelamatkan mereka. Bahkan sikap mereka tersebut merupakan pendorong bagi konversi metode sebagai upaya baru untuk menarik hati mereka dengan cara sesekali menyeru mereka secara diam-diam dan sekali waktu secara terang-terangan. Upaya tersebut sangat menguras tenaga dan pikirannya.
Para Rasul datang silih berganti, lalu datanglah giliran Nabi Ibrahim AS yang melihat kaumnya terbelah ke dalam beberapa kelompok, setiap kelompok memiliki tuhan tersendiri yang berbeda jenis antara satu dengan lainnya. Nabi Ibrahim AS menyiapkan diri untuk melakukan perubahan total terhadap keyakinan salah mereka dengan metode yang relevan dengan realita keyakinan tersebut. Salah satunya, beliau berdakwah kepada para penyembah ciptaan Allah di angkasa dengan cara seakan beliau memiliki keyakinan yang sama dengan mereka sebagai taktik untuk menarik simpati mereka.
Setelah mereka percaya penuh kepada Nabi Ibrahim, beliau membuktikan bahwa benda ruang angkasa tersebut tidak pantas untuk dijadikan Tuhan.
Nabi Ibrahim AS mengawali dakwahnya dengan menjelaskan bahwa bintang yang menjadi sesembahan kaumnya tidak berhak dan tidak pantas disembah karena ia bisa hilang dan berubah karena Tuhan yang hakiki tidak boleh tertimpa perubahan dan harus tetap dalam keadaan paling sempurna. Lalu beliau pindah ke bulan, tetapi akhirnya iapun sirna juga.
Beliau menunjukkan kesesatan mereka dan menjelaskan bahwa kebenaran bukan pada yang mereka sembah. Kemudian pandangan beliau tertuju ke matahari yang merupakan sesembahan terbesar mereka, tapi iapun tidak berbeda dengan sebelumnya yang tidak berhak ddiagungkan dan disembah. Setelah itu, barulah Ibrahim AS menyatakan kebersihan diri dari semua yang mereka sembah dan menjelaskan bahwa Rabb yang diyakininya adalah Dzat yang menciptakan bintang, bulan dan matahari serta seluruh jagar raya ini. Inilah Rabb yang pantas dan berhak disembah :
'Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan' (QS Al An'am : 79)
Disini perlu dikemukakan pendapat Dr. Abdul Wahhab An Najjar dalam bukunya Tarikh Al Anbiya, bahwa Nabi Ibrahim AS yang dijuluki sebagai Khalilullah (Kekasih Allah) tidak mungkin pernah mengalami kekufuran dalam hidupnya dengan menyatakan bahwa bintang, bulan dan matahari adalah Rabb-nya sebelum menemukan Rabb sebenarnya. Manakala kita memperhatikan sejarah hidup para Nabi lainpun akan kita dapati bahwa tak ada seorangpun diantara mereka yang pernah mengalami kekufuran.
Setelah beberapa masa, Allah mengutus Musa AS kepada Fir'aun dan kaumnya. Allah mengehndaki agar beliau terdidik di rumah Fir'aun dan tumbuh berkembang di tengah-tengah mereka sehingga beliau mengenal kondisi mereka dimana hal ini sangat membantu beliau dalam melaksanakan kewajiban dakwah kepada mereka. Dengan perintah Allah SWT, Musa AS pergi menuju Fir'aun dan kaumnya lalu terjadilah dialog antara Musa, seorang Rasul Allah, dengan Fir'aun, seorang dungu dimana kedungguannya sampai membuatnya mengaku sebagai Tuhan.
Tatkala Musa AS mampu membungkam argumentasinya, lalu sang thaghut tersebut menggunakan intimidasi dan ancaman memenjarakan beliau. Namun Musa AS tidak takut dengan ancaman tersebut. Ketika Fir'aun merasa bahwa ancaman penjara tidak menggoyahkan Musa AS, lalu ia mengancam untuk membunuhnya. Inilah upaya terakhir seorang thaghut terhadap musuhnya
Dalam kondisi demikian, Musa AS memohon perlindungan kepada Allah lalu Allah memerintahkannya untuk membuatkan jalan di laut bagi pengikutnya. Demikianlah Allah menyelamatkan para pendukung-Nya dan menghancurkan para musuh-Nya :
'Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. Dan Fir'aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk' (QS Thaha : 78-79).
Kemudian Allah mengutus Isa AS untuk meneruskan dakwah yang diperankan Musa AS untuk menyelematkan Bani Israel dari kesesatan dan mengembalikan mereka kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Tetapi kesesatan tampaknya sangat menguasai mereka. Dalam kondisi demikian, Isa AS tetap menyampaikan risalahnya dan menjelaskan bahwa dirinya menjadi Rasul atas pilihan
Allah dan memperoleh wahyu dari-Nya. Penjelasan tersebut bagi bani Israel hanya menambahkan pengingkaran. Isa AS merasa bahwa bangsanya melakukan konspirasi untuk membunuh dirinya lalu beliau menanyakan kepada pengikutnya, siapa yang siap mendukung dan membantunya. Upaya pembunuhan tersebut gagal karena Allah tidak akan menyerahkan Rasul-Nya kepada para musuh kecuali ada hikmah berupa pelajaran yang lebih besar dan manfaat yang lebih luas :
'Dan mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka… Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana' (QS An Nisa : 157-158).
Refleksi Dakwah
Dari sejarah dakwah sebagian para Rasul Ulil Azmi yang merupakan contoh signifikan bagi keikhlasan beramal, kejujuran berkata, kesabaran menanggung celaan dan hinaan, dan kesediaan berkorban dengan jiwa, harta dan anak, kiranya merefleksikan pelajaran dan bekal berharga bagi para aktifis yang bergerak dijalan dakwah.
Para Rasul yang dikisahkan diatas, semuanya selamat dari tindakan jahat para musuh Allah. Tetapi di tempat lain Alqur'an menjelaskan bahwa sebagian dari Rasul menjadi korban konspirasi pembunuhan mereka. Hal ini merupakan salah satu metode pendidikan yang ditempuh Allah yang mengandung hikmah besar, antara lain;
Pertama : Supaya orang mukmin yang mengikuti jejak para Rasul tersebut tidak selalu bergantung kepada kemenangan sesaat di dunia ini.
Kedua : Supaya orang mukmin bersabar tatkala menerima berbagai cobaan dalam melakukan amal dakwah di jalan Allah.
Ketiga : Supaya harapan mereka terhadap balasan Allah di akherat lebih besar dan lebih kuat dari segala kemenangan dalam kehidupan du muka bumi ini.
Manakala para penyeru di jalan Allah memahami dan bisa mengambil ibrah dari perjalanan dakwah para Rasul, maka mereka akan senantiasa memiliki komitmen dan keteguhan dalam menunaikan tugasnya. Lantaran mereka menapaki jalan panjang yang dimuliakan dan diridoi Allah sekalipun banyak tantangan dan godaan yang menghadanynya. Mereka yakin akan kemenangan dan balasan Allah baik di dunia ini atau nanti setelah bertemu dengan Al Khaliq, Sang pencipta.
Perjalanan dakwah diawali sejak diutusnya para Rasul yang dimaksudkan untuk menjelaskan risalah dan tuntunan Allah kepada umat manusia bagi hidup dan kehidupan mreka di muka bumi dan untuk memelihara mereka agar fitrahnya tidak terkontaminasi, rusak, menyimpang dan terdistorsi sehingga mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akherat.
Sesungguhnya manusia itu mahluk fitrah, yaitu yang secara alami cenderung memihak kepada yang benar, baik dan suci. Karena itulah manusia akan merasa aman dan tentram dengan kebenaran, kebaikan dan kesucian, memihak kepada yang baik dan yang benar, yang dalam wujud dan level tertingginya adalah memihak dan bertauhid kepada Allah SWT, Sang Kebenaran Mutlak. Hal ini merupakan implementasi perjanjian primordial antara manusia dengan Allah SWT, Penciptanya, ketika Allah hendak menciptakan manusia, Allah berfirman :
'Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap mereka seraya berfirman, bukankah Aku ini Tuhan kamu sekalian ? Mereka menjawab : benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak akan mengatakan : sesungguhnya kami (bani Adam) lupa terhadap perjanjian itu' . (QS Al A'raf : 172).
Namun, sekalipun keaslian fitrah manusia tak lenyap, ia bisa tertutup, terkontaminasi dan terdistorsi oleh hal-hal negatif yang dibawa lingkungannya dan syaitan. Fitrah juga dipengaruhi oleh sebuah kenyataan bahwa manusia adalah mahluk berdimensi dua. Ia memiliki potensi superior yang positif dan potensi imperior yang negatif. Dua potensi tersebut senantiasa bersaing, dan seringkali kemenangan berada di pihak potensi negatif karena banyak dan kuatnya faktor pendukung bagi potensi negatif tersebut. Namun demikian, masih banyak orang yang tetap bertahan di jalan kebenaran fitrah dan mampu melawan godaan serta syahwat.
Hanya saja hal ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki jiwa kokoh atau orang yang memiliki suasana kondusif dan relevan yang bias membantunya untuk bisa menciptakan kemenangan.
Diantara faktor utamanya adalah lingkungan yang baik, kawan yang mukhlis serta para para pembimbing umat. Karena itulah Allah swt memberikan bimbingan kepada manusia dengan mengirimkan para Rasul dari masa ke masa untuk membawa mereka kepada kebenaran fitrah dan menjauhkan dari penyimpangan.
Dari Sejarah Ulil Azmi
Nabi Nuh AS yang merupakan salah seorang Rasul Ulil Azmi, dikisahkan oleh Allah SWT di dalam Alqur'an tentang bagaimana beliau melakukan dakwah terhadap kaumnya :
'(Nuh) berkata : wahai Rabb-ku sesungguhnya saya telah menyeru kaumku siang malam.… Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam (QS Nuh : 5, 8-9).
Dalam ayat tersebut kita perhatikan adanya metode yang bervariasi dalam berdakwah kepada Allah yang mencakup dakwah intensif dan berkelanjutan yang tak mengenal lelah dan istirahat dimana Nabi Nuh AS berdakwah kepada kaumnya siang dan malam. Penolakan dan kebersikukukan mereka untuk tetap berpegang pada kekufuran serta kesombongan mereka melawan kebanaran sama sekali tidak membuat Nabi Nuh AS mengundurkan dan mengendurkan dakwahnya dalam rangka menyelamatkan mereka. Bahkan sikap mereka tersebut merupakan pendorong bagi konversi metode sebagai upaya baru untuk menarik hati mereka dengan cara sesekali menyeru mereka secara diam-diam dan sekali waktu secara terang-terangan. Upaya tersebut sangat menguras tenaga dan pikirannya.
Para Rasul datang silih berganti, lalu datanglah giliran Nabi Ibrahim AS yang melihat kaumnya terbelah ke dalam beberapa kelompok, setiap kelompok memiliki tuhan tersendiri yang berbeda jenis antara satu dengan lainnya. Nabi Ibrahim AS menyiapkan diri untuk melakukan perubahan total terhadap keyakinan salah mereka dengan metode yang relevan dengan realita keyakinan tersebut. Salah satunya, beliau berdakwah kepada para penyembah ciptaan Allah di angkasa dengan cara seakan beliau memiliki keyakinan yang sama dengan mereka sebagai taktik untuk menarik simpati mereka.
Setelah mereka percaya penuh kepada Nabi Ibrahim, beliau membuktikan bahwa benda ruang angkasa tersebut tidak pantas untuk dijadikan Tuhan.
Nabi Ibrahim AS mengawali dakwahnya dengan menjelaskan bahwa bintang yang menjadi sesembahan kaumnya tidak berhak dan tidak pantas disembah karena ia bisa hilang dan berubah karena Tuhan yang hakiki tidak boleh tertimpa perubahan dan harus tetap dalam keadaan paling sempurna. Lalu beliau pindah ke bulan, tetapi akhirnya iapun sirna juga.
Beliau menunjukkan kesesatan mereka dan menjelaskan bahwa kebenaran bukan pada yang mereka sembah. Kemudian pandangan beliau tertuju ke matahari yang merupakan sesembahan terbesar mereka, tapi iapun tidak berbeda dengan sebelumnya yang tidak berhak ddiagungkan dan disembah. Setelah itu, barulah Ibrahim AS menyatakan kebersihan diri dari semua yang mereka sembah dan menjelaskan bahwa Rabb yang diyakininya adalah Dzat yang menciptakan bintang, bulan dan matahari serta seluruh jagar raya ini. Inilah Rabb yang pantas dan berhak disembah :
'Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan' (QS Al An'am : 79)
Disini perlu dikemukakan pendapat Dr. Abdul Wahhab An Najjar dalam bukunya Tarikh Al Anbiya, bahwa Nabi Ibrahim AS yang dijuluki sebagai Khalilullah (Kekasih Allah) tidak mungkin pernah mengalami kekufuran dalam hidupnya dengan menyatakan bahwa bintang, bulan dan matahari adalah Rabb-nya sebelum menemukan Rabb sebenarnya. Manakala kita memperhatikan sejarah hidup para Nabi lainpun akan kita dapati bahwa tak ada seorangpun diantara mereka yang pernah mengalami kekufuran.
Setelah beberapa masa, Allah mengutus Musa AS kepada Fir'aun dan kaumnya. Allah mengehndaki agar beliau terdidik di rumah Fir'aun dan tumbuh berkembang di tengah-tengah mereka sehingga beliau mengenal kondisi mereka dimana hal ini sangat membantu beliau dalam melaksanakan kewajiban dakwah kepada mereka. Dengan perintah Allah SWT, Musa AS pergi menuju Fir'aun dan kaumnya lalu terjadilah dialog antara Musa, seorang Rasul Allah, dengan Fir'aun, seorang dungu dimana kedungguannya sampai membuatnya mengaku sebagai Tuhan.
Tatkala Musa AS mampu membungkam argumentasinya, lalu sang thaghut tersebut menggunakan intimidasi dan ancaman memenjarakan beliau. Namun Musa AS tidak takut dengan ancaman tersebut. Ketika Fir'aun merasa bahwa ancaman penjara tidak menggoyahkan Musa AS, lalu ia mengancam untuk membunuhnya. Inilah upaya terakhir seorang thaghut terhadap musuhnya
Dalam kondisi demikian, Musa AS memohon perlindungan kepada Allah lalu Allah memerintahkannya untuk membuatkan jalan di laut bagi pengikutnya. Demikianlah Allah menyelamatkan para pendukung-Nya dan menghancurkan para musuh-Nya :
'Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. Dan Fir'aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk' (QS Thaha : 78-79).
Kemudian Allah mengutus Isa AS untuk meneruskan dakwah yang diperankan Musa AS untuk menyelematkan Bani Israel dari kesesatan dan mengembalikan mereka kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Tetapi kesesatan tampaknya sangat menguasai mereka. Dalam kondisi demikian, Isa AS tetap menyampaikan risalahnya dan menjelaskan bahwa dirinya menjadi Rasul atas pilihan
Allah dan memperoleh wahyu dari-Nya. Penjelasan tersebut bagi bani Israel hanya menambahkan pengingkaran. Isa AS merasa bahwa bangsanya melakukan konspirasi untuk membunuh dirinya lalu beliau menanyakan kepada pengikutnya, siapa yang siap mendukung dan membantunya. Upaya pembunuhan tersebut gagal karena Allah tidak akan menyerahkan Rasul-Nya kepada para musuh kecuali ada hikmah berupa pelajaran yang lebih besar dan manfaat yang lebih luas :
'Dan mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka… Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana' (QS An Nisa : 157-158).
Refleksi Dakwah
Dari sejarah dakwah sebagian para Rasul Ulil Azmi yang merupakan contoh signifikan bagi keikhlasan beramal, kejujuran berkata, kesabaran menanggung celaan dan hinaan, dan kesediaan berkorban dengan jiwa, harta dan anak, kiranya merefleksikan pelajaran dan bekal berharga bagi para aktifis yang bergerak dijalan dakwah.
Para Rasul yang dikisahkan diatas, semuanya selamat dari tindakan jahat para musuh Allah. Tetapi di tempat lain Alqur'an menjelaskan bahwa sebagian dari Rasul menjadi korban konspirasi pembunuhan mereka. Hal ini merupakan salah satu metode pendidikan yang ditempuh Allah yang mengandung hikmah besar, antara lain;
Pertama : Supaya orang mukmin yang mengikuti jejak para Rasul tersebut tidak selalu bergantung kepada kemenangan sesaat di dunia ini.
Kedua : Supaya orang mukmin bersabar tatkala menerima berbagai cobaan dalam melakukan amal dakwah di jalan Allah.
Ketiga : Supaya harapan mereka terhadap balasan Allah di akherat lebih besar dan lebih kuat dari segala kemenangan dalam kehidupan du muka bumi ini.
Manakala para penyeru di jalan Allah memahami dan bisa mengambil ibrah dari perjalanan dakwah para Rasul, maka mereka akan senantiasa memiliki komitmen dan keteguhan dalam menunaikan tugasnya. Lantaran mereka menapaki jalan panjang yang dimuliakan dan diridoi Allah sekalipun banyak tantangan dan godaan yang menghadanynya. Mereka yakin akan kemenangan dan balasan Allah baik di dunia ini atau nanti setelah bertemu dengan Al Khaliq, Sang pencipta.
Langganan:
Komentar (Atom)