Oleh : Imron Zabidi, MA, M.Phil
Perjalanan dakwah diawali sejak diutusnya para Rasul yang dimaksudkan untuk menjelaskan risalah dan tuntunan Allah kepada umat manusia bagi hidup dan kehidupan mreka di muka bumi dan untuk memelihara mereka agar fitrahnya tidak terkontaminasi, rusak, menyimpang dan terdistorsi sehingga mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akherat.
Sesungguhnya manusia itu mahluk fitrah, yaitu yang secara alami cenderung memihak kepada yang benar, baik dan suci. Karena itulah manusia akan merasa aman dan tentram dengan kebenaran, kebaikan dan kesucian, memihak kepada yang baik dan yang benar, yang dalam wujud dan level tertingginya adalah memihak dan bertauhid kepada Allah SWT, Sang Kebenaran Mutlak. Hal ini merupakan implementasi perjanjian primordial antara manusia dengan Allah SWT, Penciptanya, ketika Allah hendak menciptakan manusia, Allah berfirman :
'Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap mereka seraya berfirman, bukankah Aku ini Tuhan kamu sekalian ? Mereka menjawab : benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak akan mengatakan : sesungguhnya kami (bani Adam) lupa terhadap perjanjian itu' . (QS Al A'raf : 172).
Namun, sekalipun keaslian fitrah manusia tak lenyap, ia bisa tertutup, terkontaminasi dan terdistorsi oleh hal-hal negatif yang dibawa lingkungannya dan syaitan. Fitrah juga dipengaruhi oleh sebuah kenyataan bahwa manusia adalah mahluk berdimensi dua. Ia memiliki potensi superior yang positif dan potensi imperior yang negatif. Dua potensi tersebut senantiasa bersaing, dan seringkali kemenangan berada di pihak potensi negatif karena banyak dan kuatnya faktor pendukung bagi potensi negatif tersebut. Namun demikian, masih banyak orang yang tetap bertahan di jalan kebenaran fitrah dan mampu melawan godaan serta syahwat.
Hanya saja hal ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki jiwa kokoh atau orang yang memiliki suasana kondusif dan relevan yang bias membantunya untuk bisa menciptakan kemenangan.
Diantara faktor utamanya adalah lingkungan yang baik, kawan yang mukhlis serta para para pembimbing umat. Karena itulah Allah swt memberikan bimbingan kepada manusia dengan mengirimkan para Rasul dari masa ke masa untuk membawa mereka kepada kebenaran fitrah dan menjauhkan dari penyimpangan.
Dari Sejarah Ulil Azmi
Nabi Nuh AS yang merupakan salah seorang Rasul Ulil Azmi, dikisahkan oleh Allah SWT di dalam Alqur'an tentang bagaimana beliau melakukan dakwah terhadap kaumnya :
'(Nuh) berkata : wahai Rabb-ku sesungguhnya saya telah menyeru kaumku siang malam.… Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam (QS Nuh : 5, 8-9).
Dalam ayat tersebut kita perhatikan adanya metode yang bervariasi dalam berdakwah kepada Allah yang mencakup dakwah intensif dan berkelanjutan yang tak mengenal lelah dan istirahat dimana Nabi Nuh AS berdakwah kepada kaumnya siang dan malam. Penolakan dan kebersikukukan mereka untuk tetap berpegang pada kekufuran serta kesombongan mereka melawan kebanaran sama sekali tidak membuat Nabi Nuh AS mengundurkan dan mengendurkan dakwahnya dalam rangka menyelamatkan mereka. Bahkan sikap mereka tersebut merupakan pendorong bagi konversi metode sebagai upaya baru untuk menarik hati mereka dengan cara sesekali menyeru mereka secara diam-diam dan sekali waktu secara terang-terangan. Upaya tersebut sangat menguras tenaga dan pikirannya.
Para Rasul datang silih berganti, lalu datanglah giliran Nabi Ibrahim AS yang melihat kaumnya terbelah ke dalam beberapa kelompok, setiap kelompok memiliki tuhan tersendiri yang berbeda jenis antara satu dengan lainnya. Nabi Ibrahim AS menyiapkan diri untuk melakukan perubahan total terhadap keyakinan salah mereka dengan metode yang relevan dengan realita keyakinan tersebut. Salah satunya, beliau berdakwah kepada para penyembah ciptaan Allah di angkasa dengan cara seakan beliau memiliki keyakinan yang sama dengan mereka sebagai taktik untuk menarik simpati mereka.
Setelah mereka percaya penuh kepada Nabi Ibrahim, beliau membuktikan bahwa benda ruang angkasa tersebut tidak pantas untuk dijadikan Tuhan.
Nabi Ibrahim AS mengawali dakwahnya dengan menjelaskan bahwa bintang yang menjadi sesembahan kaumnya tidak berhak dan tidak pantas disembah karena ia bisa hilang dan berubah karena Tuhan yang hakiki tidak boleh tertimpa perubahan dan harus tetap dalam keadaan paling sempurna. Lalu beliau pindah ke bulan, tetapi akhirnya iapun sirna juga.
Beliau menunjukkan kesesatan mereka dan menjelaskan bahwa kebenaran bukan pada yang mereka sembah. Kemudian pandangan beliau tertuju ke matahari yang merupakan sesembahan terbesar mereka, tapi iapun tidak berbeda dengan sebelumnya yang tidak berhak ddiagungkan dan disembah. Setelah itu, barulah Ibrahim AS menyatakan kebersihan diri dari semua yang mereka sembah dan menjelaskan bahwa Rabb yang diyakininya adalah Dzat yang menciptakan bintang, bulan dan matahari serta seluruh jagar raya ini. Inilah Rabb yang pantas dan berhak disembah :
'Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan' (QS Al An'am : 79)
Disini perlu dikemukakan pendapat Dr. Abdul Wahhab An Najjar dalam bukunya Tarikh Al Anbiya, bahwa Nabi Ibrahim AS yang dijuluki sebagai Khalilullah (Kekasih Allah) tidak mungkin pernah mengalami kekufuran dalam hidupnya dengan menyatakan bahwa bintang, bulan dan matahari adalah Rabb-nya sebelum menemukan Rabb sebenarnya. Manakala kita memperhatikan sejarah hidup para Nabi lainpun akan kita dapati bahwa tak ada seorangpun diantara mereka yang pernah mengalami kekufuran.
Setelah beberapa masa, Allah mengutus Musa AS kepada Fir'aun dan kaumnya. Allah mengehndaki agar beliau terdidik di rumah Fir'aun dan tumbuh berkembang di tengah-tengah mereka sehingga beliau mengenal kondisi mereka dimana hal ini sangat membantu beliau dalam melaksanakan kewajiban dakwah kepada mereka. Dengan perintah Allah SWT, Musa AS pergi menuju Fir'aun dan kaumnya lalu terjadilah dialog antara Musa, seorang Rasul Allah, dengan Fir'aun, seorang dungu dimana kedungguannya sampai membuatnya mengaku sebagai Tuhan.
Tatkala Musa AS mampu membungkam argumentasinya, lalu sang thaghut tersebut menggunakan intimidasi dan ancaman memenjarakan beliau. Namun Musa AS tidak takut dengan ancaman tersebut. Ketika Fir'aun merasa bahwa ancaman penjara tidak menggoyahkan Musa AS, lalu ia mengancam untuk membunuhnya. Inilah upaya terakhir seorang thaghut terhadap musuhnya
Dalam kondisi demikian, Musa AS memohon perlindungan kepada Allah lalu Allah memerintahkannya untuk membuatkan jalan di laut bagi pengikutnya. Demikianlah Allah menyelamatkan para pendukung-Nya dan menghancurkan para musuh-Nya :
'Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. Dan Fir'aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk' (QS Thaha : 78-79).
Kemudian Allah mengutus Isa AS untuk meneruskan dakwah yang diperankan Musa AS untuk menyelematkan Bani Israel dari kesesatan dan mengembalikan mereka kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Tetapi kesesatan tampaknya sangat menguasai mereka. Dalam kondisi demikian, Isa AS tetap menyampaikan risalahnya dan menjelaskan bahwa dirinya menjadi Rasul atas pilihan
Allah dan memperoleh wahyu dari-Nya. Penjelasan tersebut bagi bani Israel hanya menambahkan pengingkaran. Isa AS merasa bahwa bangsanya melakukan konspirasi untuk membunuh dirinya lalu beliau menanyakan kepada pengikutnya, siapa yang siap mendukung dan membantunya. Upaya pembunuhan tersebut gagal karena Allah tidak akan menyerahkan Rasul-Nya kepada para musuh kecuali ada hikmah berupa pelajaran yang lebih besar dan manfaat yang lebih luas :
'Dan mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka… Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana' (QS An Nisa : 157-158).
Refleksi Dakwah
Dari sejarah dakwah sebagian para Rasul Ulil Azmi yang merupakan contoh signifikan bagi keikhlasan beramal, kejujuran berkata, kesabaran menanggung celaan dan hinaan, dan kesediaan berkorban dengan jiwa, harta dan anak, kiranya merefleksikan pelajaran dan bekal berharga bagi para aktifis yang bergerak dijalan dakwah.
Para Rasul yang dikisahkan diatas, semuanya selamat dari tindakan jahat para musuh Allah. Tetapi di tempat lain Alqur'an menjelaskan bahwa sebagian dari Rasul menjadi korban konspirasi pembunuhan mereka. Hal ini merupakan salah satu metode pendidikan yang ditempuh Allah yang mengandung hikmah besar, antara lain;
Pertama : Supaya orang mukmin yang mengikuti jejak para Rasul tersebut tidak selalu bergantung kepada kemenangan sesaat di dunia ini.
Kedua : Supaya orang mukmin bersabar tatkala menerima berbagai cobaan dalam melakukan amal dakwah di jalan Allah.
Ketiga : Supaya harapan mereka terhadap balasan Allah di akherat lebih besar dan lebih kuat dari segala kemenangan dalam kehidupan du muka bumi ini.
Manakala para penyeru di jalan Allah memahami dan bisa mengambil ibrah dari perjalanan dakwah para Rasul, maka mereka akan senantiasa memiliki komitmen dan keteguhan dalam menunaikan tugasnya. Lantaran mereka menapaki jalan panjang yang dimuliakan dan diridoi Allah sekalipun banyak tantangan dan godaan yang menghadanynya. Mereka yakin akan kemenangan dan balasan Allah baik di dunia ini atau nanti setelah bertemu dengan Al Khaliq, Sang pencipta.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar